Meningkatkan Taraf Hidup Umat dengan Investasi Zakat

by: Royyan Ramdhani Djayusman

Zakat dan Kemiskinan di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang berkembang di Asia yang tidak terlepas dari problem kemiskinan. Berdasarkan Data Resmi Statistik BPS (2010), jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan di Indonesia pada Bulan Maret 2010 sebesar 31,02 juta (13,33 persen). Penyebaran penduduk miskin paling banyak dijumpai di daerah perdesaan sebanyak 19,93 juta (64,23 persen), sedangkan di daerah perkotaan sebanyak 11,10 juta (35,77 persen). Data tersebut menunjukkan bahwa penduduk miskin di Indonesia hampir mayoritas tinggal di daerah pedesaan.

Salah satu penyebab kemiskinan adalah ketimpangan distribusi pendapatan. Ketimpangan pendapatan yang sangat jauh terdapat pada selisih pendapatan antara orang miskin dan orang kaya. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme untuk menyeimbangkan pendapatan dengan menyalurkan sebagian pendapatan orang kaya kepada orang lainnya yang lebih membutuhkan. Sehingga jurang ketimpangan pendapatan antara si miskin dan si kaya tidak terlalu jauh.

Islam menyediakan mekanisme distribusi pendapatan melalui konsep zakat dalam rangka mengurangi jarak ketimpangan pendapatan yang menyebabkan kemiskinan. Konsep tersebut telah banyak dibahas dalam Al-Quran dan Hadits Rasulullah. Allah SWT telah berfirman tentang pengelolaan harta agar tidak hanya berada golongan orang-orang kaya saja dalam Al-Quran surat Al-Hasyr ayat 7.

Allah SWT berfirman:

كَيْ لاَ يَكُوْنُ دُوْلَةً بَيْنَ الأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ.

“Supaya harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kamu”.

Kepedulian Islam terhadap masalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan juga telah dipraktekkan sejak masa Rasulullah SAW. Di antara solusi Islam dalam mengatasi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan adalah zakat. Rasulullah SAW telah bersabda tentang perintah dan manfaat dari zakat sebagai berikut:

قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فيِ أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدَّ فيِ فُقَرَائِهِمْ. (متفقة عليه)

 Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kalian sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya dan dikembalikan (diberikan) kepada orang-orang fakir”. (HR. Mutafaqun Alaihi).

Muslim dan Potensi Zakat di Indonesia

Hasil survei PIRAC pada tahun 2007 menunjukkan potensi zakat di Indonesia sebesar Rp11,5 triliun. Menurut Indonesia Zakat and Development Report 2010 menunjukkan penghitungan dana zakat yang berhasil dikumpulkan oleh Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) pada tahun 2010 mencapai Rp. 1,025 triliun. Oleh karena itu, dapat dilihat selisih antara dana yang terkumpul dengan jumlah potensi zakat yang ada, yaitu dana zakat yang terkumpul sebesar hanya mencapai 11,21 % dari total potensi yang ada.

Mayoritas penduduk di Indonesia adalah Muslim yang populasinya sebesar 86% dari total penduduk (Sensus, 2000). Sebagai mayoritas, seharusnya umat Muslim memiliki kontribusi yang nyata terhadap pengentasan kemiskinan di Indonesia. Namun, dengan konsep dan potensi zakat di Indonesia, umat Muslim masih belum dapat memberikan kontribusi yang maksimal bagi pengentasan kemiskinan di Indonesia, sehingga kemiskinan masih menjadi masalah serius di Indonesia khususnya di kalangan internal umat Muslim.

Zakat Produktif dan Investasi Zakat

Zakat produktif merupakan salah satu bentuk penyaluran dana zakat yang  banyak dikembangkan pada saat ini. Zakat produktif adalah pemberian zakat pada sektor atau usaha yang menghasilkan dan mendatangkan keuntugan, sehingga menjadikan penerima zakat dapat menikmati hasilnya terus menerus hingga mandiri. Bentuk pemberian zakat produktif sangat beragam diantaranya dengan memberikan bantuan modal dalam bentuk uang atau barang produksi, pendirian Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) untuk dapat menyalurkan dana zakat dalam bentuk pinjaman modal dengan prosedur seperti yang dilakukan di Koperasi Simpan Pinjam, BMT dan Bank. Namun, mekanisme dan prosedur tersebut dinilai memberatkan para mustahik dengan adanya keharusan mengembalikan modal dan margin dan bagi hasil, serta keharusan memberikan jaminan untuk permohonan bantuan.

Walaupun program pemberdayaan mustahik melalui zakat produktif tersebut telah banyak membawa manfaat, akan tetapi program tersebut masih terhenti pada tahap pemberian modal dan pembinaan saja. Program pemberdayaan masih belum menyentuh lebih jauh pada aspek pemasaran produk. Selain itu, keberagaman kemampuan para mustahik dalam mengelola modal juga masih menjadi kendala tersendiri. Artinya, program pemberdayaan tidak cukup hanya dengan mengandalkan mekanisme zakat produktif dalam bentuk bantuan modal, akan tetapi diperlukan juga sebuah model alternatif dalam pengembangan dana zakat yang berbasis investasi untuk manfaat  jangka panjang.

Dalam investasi zakat, dana zakat tidak hanya disalurkan dalam bentuk modal usaha, akan tetapi lebih diprioritaskan kepada investasi dana zakat pada sektor-sektor yang mendatangkan keuntungan (profitable) dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi para mustahik. Pengelolaan asset investasi zakat dilakukan dengan sinergi antara lembaga pengelola zakat dan para mustahik. Hasil dan keuntungan dari investasi zakat dapat disalurkan kembali kepada sektor-sektor yang menjadi kebutuhan para mustahik, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, sarana dan fasilitas umum dan gerakan dakwah.

Investasi Zakat dalam Praktek

Konsep investasi zakat sudah mulai diterima di berberapa negara muslim. Di Pakistan terdapat lembaga khusus untuk mengelola dana investasi zakat yang bernama AZIF atau Awqaf Zakah Investment Fund. Investasi dana zakat yang dipraktekkan AZIF dilakukan dengan skema pembiayaan yang sesuai dengan syariah seperti investasi pada surat berharga atau portofolio. Sedangkan di Malaysia, investasi dana zakat dilakukan dengan mengalokasikan dana zakat pada sektor bisnis seperti properti.

Di Indonesia, pola investasi zakat telah dipraktekkan oleh Dompet Dhuafa Republika. Terdapat dua pola investasi zakat di Dompet Dhuafa, pertama; investasi dana zakat yang menjadi bagian para amil, kedua; investasi dana zakat yang menjadi bagian golongan lainnya.

Investasi dana zakat yang menjadi hak para amil dilakukan pada sektor bisnis murni, seperti mini market, DD water, DD travel. Hasil keuntungan dari bisnis tersebut akan dibagikan kepada para amil, sehingga dana operasional dan gaji para amil tidak menggantungkan pada bagian 1/8 dari total zakat yang dihimpun.

Investasi dana zakat yang menjadi bagian golongan penerima zakat lainnya dilakukan melalui program Baitul Maal Desa (BMD). Program ini merupakan program rehabilitasi pasca bencana di Yogyakarta pada tahun 2006, sekaligus sebagai program pengembangan masyarakat.

Program Pertanian BMD merupakan praktek pengelolaan dan penyaluran dana zakat dengan skema investasi (investasi zakat). Investor dalam investasi zakat ini adalah BMD Dompet Dhuafa. Sumber dana investasi zakat berasal dari dana ZIS Dompet Dhuafa Republika dan bantuan dari pihak lain termasuk para muzakki di sekitar lokasi BMD. Investasi zakat yang dilakukan BMD adalah dengan pengadaan dan pengeloaan aset produktif oleh dan untuk para dhuafa.

Peserta program ini dipilih berdasarkan tingkat penghasilan di bawah UMP DIY yaitu Rp700.000,00 (2009) terutama para buruh tani yang tidak memiliki lahan produktif. Strategi investasi zakat yang dilakukan adalah redistribusi lahan, pembangunan pertanian, industrialisasi pedesaan, pertanian terpadu dan marketing DD Beras. Dana investas zakat dikelola untuk membiayai sewa lahan, pengadaan saprodi, bantuan pupuk, bibit dan investasi barang modal. Hasil investasi zakat didistribusikan untuk biaya panen (bawon) dan bagi hasil (50:50) antara peserta dan BMD.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis pada tahun 2009 di Kabupaten Bantul tentang persepsi dhuafa buruh tani terhadap program pertanian BMD, didapatkan hasil bahwa peserta program menilai program ini telah sesuai dengan keinginan mereka yaitu 78% dari peserta setuju dengan pola investasi zakat yang dilakukan daripada pola penyaluran dana zakat dengan cara konsumtif.

Penelitan yang sama juga telah membuktikan adanya pengaruh yang nyata (signifikan) dari investasi zakat terhadap peningkatan pendapatan dhuafa buruh tani. Setelah dilakukan analisis terhadap hasil uji beda dua rata-rata terhadap pendapatan dhuafa buruh tani sebelum dan sesudah mengikuti program pertanian BMD didapatkan perbedaan yang signifikan antara pendapatan sebelum dan sesudah mengikuti program BMD. Peningkatan pendapatan yang dialami oleh dhuafa buruh tani rata-rata Rp210.584,00 per bulan, atau naik sebesar 77,12% dari rata-rata pendapatan sebelumnya.

Penutup

Pelaksanaan zakat di Indonesia masih memiliki banyak tantangan yang dihadapi. Salah satu tantangan yang penting adalah lemahnya atau kurangnya kesadaran muslim di Indonesia untuk membayar zakat, khusus membayar zakat melalui organisasi pengelola zakat. Tantangan lainnya adalah strategi penyaluran dana zakat yang masih belum terkoordinasi dengan baik, baik dari segi pembagian wilayah operasional dan bentuk mekanisme pengelolaan zakat. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam segala aspek, pada aspek pengumpulan dana zakat ataupun dalam hal penyaluran dana zakat.

Zakat merupakan salah satu instrumen atau alat dalam distribusi pendapatan dan mengurangi kemiskinan. Apabila pengelolaan zakat telah dilakukan dengan maksimal tanpa diimbangi oleh penerapan instrumen-instrumn ekonomi Islam lainnya seperti pelarangan riba dan penimbunan, maka pengaruh zakat terhadap kesejahteraan umat tidak akan maksimal. Oleh karena itu, sektor-sektor ekonomi Islam yang lain harus dapat dipraktekkan untuk mendukung peran dan fungsi zakat dalam meningkatkan taraf hidup umat.

Leave a comment

Filed under Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s