Ekonomi Islam dan Penanganan Bencana

by: Royyan Ramdhani Djayusman

A. Pendahuluan

Ekonomi Islam bersifat konfrehensif, artinya pendekatan yang digunakan tidak hanya dari sudut pandang yang disebut oleh ilmuwan Barat dengan ekonomi (ekonomi konvensional). Pendekatan dalam Ekonomi Islam dilakukan melalui sudut pandang yang saling berhubungan dan tak terpisahkan, diantaranya; agama, sosial, budaya, politik dan hukum.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah (Chapra, 2000) menyatakan bahwa kesejahteraan suatu bangsa tidak hanya melibatkan variabel-variabel ekonomi (yang digagas oleh ilmuwan Barat) namun sangat bergantung pula pada beberapa faktor, seperti; faktor moral, psikologis, politik, ekonomi, sosial, demografi dan sejarah dalam fenomena jatuh dan bangunnyadinasti dan peradaban.

Bencana memiliki dampak positif sekaligus dampak negatif yang tidak sedikit. Bencana menyebabkan kerusakan dan ketidakseimbangan kehidupan sosio-ekonomi masyarakat. Dalam beberapa kasus, bencana pada akhirnya dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan kehancuran total. Seberapa besar tingkat kerusakan dan separah apapun kelumpuhan yang dialami penanganan bencana dan usaha-usaha untuk memperbaiki (rehabilitasi) harus tetap dilakukan.

Tulisan ini difokuskan kepada langkah-langkah yang dilakukan penanganan pasca bencana perspektif Ekonomi Islam. Penanganan pasca bencana yang dimaksud adalah segala bentuk usaha yang dilakukan untuk memperbaiki kerusakan fisik dan non-fisik, sehingga kehidupan masyarakat yang terkena musibah dapat kembali stabil dan normal.

B. Pembahasan

B. 1. Recovery by (Islamic Economics) Objectives

Tujuan Ekonomi Islam tidak dapat dipisahkan dari tujuan syariah. Syariah ditetapkan untuk memastikan manusia dapat menjalani kehidupan ini dengan baik dan selamat dunia dan akhirat. Dari sudut ekonomi, tujuan Ekonomi Islam adalah untuk mewujudkan kesejahteraan umat manusia.

Imam Al-Ghazali (1111) dalam Chapra (2000) menegaskan bahwa tujuan utama syariah adalah mendorong kesejahteraan manusia yang terletak pada perlindungan terhadap agama (diin), diri (nafs), akal (aql), keturunan (nasl) dan harta benda (maal). Apa saja yang menjamin terlindungnya lima perkara tersebut berarti melindungi kepentingan umum.

Penanganan dan recovery pasca bencana dalam perspektif Ekonomi Islam dilakukan berdasarkan tujuan-tujuannya yang sebenarnya adalah tujuan syariah (maqashid syariah). Penempatan dan urutan masing-masing tujuan oleh Al-Ghazali memiliki makna prioritas dalam pelaksanaannya.

B.1.1.Melindungi Agama (diin)

Penanganan dan recovery pasca bencana berdasarkan tujuan melindungi agama adalah melakukan segala usaha untuk memperkuat kembali spiritualitas dan keimanan individu dan masyarakat dalam menghadapi akibat bencana. Penanganan ini juga dapat diartikan sebagai usaha untuk menjaga manusia (muslim) agar tetap pada keyakinan agama mereka. Menjaga manusia (muslim) tidak memilih kemurtadan pada saat mereka dalam keadaan lemah secara spiritual dan material.

Pandangan manusia terhadap bencana diarahkan kepada pandangan yang lurus bahwa segala bentuk bencana berasal dari Allah swt. Pemahaman yang benar akan melandasi setiap aktivitas dan respon manusia terhadap bencana. Manusia akan hanya percaya bahwa pertolongan dan perlindungan pada hakikatnya berasal dari Allah swt. Sehingga mereka tidak mencari pertolongan kepada selain Allah swt. (syirik) yang pada akhirnya akan memperluas makna bencana yaitu tidak hanya bencana yang merugikan secara fisik, namun bencana keimanan yang bahkan akan mendatangkan bencana yang lebih besar dan kekal.

Penanganan ini akan memberikan kekuatan mental spiritual manusia. Manusia dapat hidup lebih kuat dan produktif apabila mental-spiritual mereka telah kuat. Kekuatan mental spiritual juga mendorong manusia untuk dapat mengenal tujuan hidup mereka dengan jelas. Tujuan akhir dari penanganan berbasis tujuan menjaga agama adalah membentuk manusia yang optimis dalam menghadapi kehidupan mereka.

B.1.2.Melindungi Diri (nafs)

Penanganan dan recovery pasca bencana berdasarkan tujuan melindungi diri  adalah melakukan segala usaha untuk menyelamatkan jiwa manusia (nyawa) atau kehidupan. Melindungi diri ditempatkan setelah tujuan melindungi agama karena urgensi melindungi diri terletak dibawah urgensi melindungi agama (keimanan). Seorang dengan keimanan yang baik kemudian meninggal dunia maka dia akan menghadap Tuhannya dengan keimanan. Keadaan tersebut akan lebih baik dari pada seseorang yang tetap hidup pasca bencana dengan tanpa keimanan, karena hidupnya akan sia-sia (tidak diterima amal perbuatannya).

Tujuan penanganan ini adalah meyelamatkan jiwa manusia dari kematian. Hal ini dilakukan dengan memberikan segala upaya untuk menghindari atau memperkecil resiko kehilangan nyawa manusia.

B.1.3.Melindungi Akal (aql)

Penanganan dengan tujuan melindungi akal adalah upaya penaggulangan dan recovery pada hal-hal yang berhubungan dengan akal manusia. Hal utama yang berkaitan penting dengan bidang keilmuan dan pendidikan adalah melindungi akal manusia dari ketidakberdayaan, kebodohan dan keterbelakangan ilmu pengetahuan. Hal ini merupakan bagian dari tujuan Ekonomi Islam dalam rangka mencapai kesejahteraan umat manusia.

Pendidikan terletak pada urutan ketiga dari prioritas untuk mencapai tujuan kesejahteraan. Pendidikan berada di atas kepentingan melindungi keturunan (keluarga) atau jumlah penduduk dan harta (kekayaan) yang berarti aspek pendidikan lebih penting dari hanya pencapaian jumlah penduduk yang tinggi ataupun pencapaian kekayaan yang melimpah. Pendidikan juga merupakan hal yang harus dimiliki manusia setelah manusia dianugerahi kehidupan, atau lebih sederhana dapat dikatakan pendidikan harus segera diberikan setelah manusia dilahirkan ke dunia, bahkan semenjak dalam kandungan pendidikan harus telah dimulai.

B.1.4.Melindungi Keturunan (nasl)

Penanganan dengan tujuan melindungi keturunan (nasl) adalah upaya penaggulangan dan recovery pada hal-hal yang berhubungan keberlangsungan hidup  dan jumlah manusia dan keturunannya.

Tujuan penanganan ini adalah memberikan ruang bagi manusia untuk tetap dapat meningkatkan keturunannya. Peningkatan keturunan dapat berupa peningkatan secara kualitas ataupun kuantitas.

B.1.5.Melindungi Harta Benda (maal)

Penanganan dengan tujuan melindungi harta benda (maal) adalah segala usaha yang berkaitan dengan perlindungan manusia dari segi materi (harta). Perlindungan ini berupa menyelamatkan segala bentuk sumber daya atau aset terutama yang bersifat produktif yang dimiliki oleh manusia. Hal ini menjadi penting karena Islam tidak manafikan keberadaan materi dalam kehidupan manusia.

Penanganan ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada manusia untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan taraf hidup mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pada masa pasca bencana, hampir seluruh manusia mengalami kerusakan dan kekurangan harta benda terutama aset produtif mereka. Aset produktif merupakan hal utama bagi manusia untuk meningkatkan kehidupan mereka dari segi ekonomi.

B. 2. Strategi Pembangunan Rasulullah

Hijarah ke Madinah merupakan hal yang paling penting bagi umat Islam. Hijrah member harapan baru bagi umat Islam untuk dapat menjalankan kehidupan beragama mereka. Namun, hijrah juga merupakan tonggak dan awal mula kehidupan bagi kaum muhajirin untuk membangun kembali kehidupan mereka di tempat yang baru (Madinah).

Rasulullah saw. melakukan tiga hal utama pada masa permulaan hijrah di Madinah, pertama; membangun Masjid Nabawi sebagai pusat pendidikan dan pemerintahan, kedua; mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar sebagai sarana untuk membentuk ukhuwah islamiyah, ketiga; mendirikan pasar bagi umat Islam sebagai sarana pembangunan ekonomi muslim.

 

B.2.1.Mendirikan Masjid (Pusat Pendidikan dan Pemerintahan)

Masjid didirikan dengan tujuan sebagai pusat pembinaan mental spiritual, pendidikan dan dakwah Islamiyah. Masjid sebagai pusat pendidikan merupakan sarana untuk membina keimanan dan meningkatkan keterampilan serta keilmuan kaum muslimin pada saat itu. Masjid sebagai pusat pemerintahan yaitu sebagai pusat komando, di mana keputusan politik dan public diputuskan melalui mekanisme musyarawah di antara Rasulullah saw dan para sahabat yang memiliki keahlian pada masing-masing bidang.

B.2.2.Mempersatukan Muhajirin dan Anshar (Membentuk Solidaritas)

Sariy (1998) menjelaskan ada tiga pilar utama Ekonomi Islam, yaitu kepemilikan yang terintegrasi (pribadi dan umum); kebebasan ekonomi yang dibatasi; tanggungjawab sosial. Mempersatukan Muhajirin merupakan salah satu cara untuk membangun solidaritas dan tanggungjawab sosial di antara sesama manusia. Pada saat bencana penggalangan solidaritas dan tanggungjawab sosial menemukan momen emasnya. Namun, hal ini perlu dibina dan dikoordinasikan agar manfaat dapat meluas dan berlangsung lama.

B.2.3.Mendirikan Pasar (Pembangunan Ekonomi)

Apabila mendirikan masjid adalah upaya untuk membangun kembali keimanan dan ketauhidan, sedangkan mempersatukan muhajirin dan anshar merupakan membangun kembali solidaritas muslim (ukhuwah islamiyah). Mendirikan pasar adalah langkah untuk membangun kembali perekonomian pasca bencana.

Pasar adalah salah satu indikator aktivitas ekonomi setiap daerah ataupun negara. Selain sebagai tempat pertemuan antara penjual dan pembeli, pasar juga sebagai tempat perputaran keuangan yang selanjutkan mendorong distribusi kekayaan di antara manusia. Dengan mengembalikan aktivitas pasar, berarti pula mengembalikan aktivitas perekonomian. Namun, pasar yang dibangun oleh Rasulullah saw merupakan pasar menjalankan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, hasil pembangunan yang bermula dari pasar bebas nilai dan pasar dengan nilai-nilai Islam tentu akan berbeda.

Pasar merupakan tempat pertemuan antara aktivitas permintaan dan penawaran. Aktivitas permintaan pasca gempa tentunya akan semakin bertambah dikarenakan banyaknya barang dan sumber daya yang rusak dan hilang akibat bencana. Namun, bencana juga menyebabkan manusia tidak memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga aktivitas permintaan di pasar akan terganggu.

B. 3. Rehabilitasi Bencana dengan Investasi Zakat

Zakat merupakan salah satu stimulus untuk membangkitkan kembali permintaan bagi masyarakat yang membutuhkan. Zakat merupakan salah satu instrument dalam distribusi pendapatan dari pihak yang surplus kepada pihak yang deficit atau tidak memiliki pertumbuhan.

Dalam konteks penanganan bencana, zakat disalurkan dalam bentuk yang lebih produktif dan berkesinambungan manfaatnya. Zakat tidak sebagai dana sumbangan yang berupa bantuan konsumtif dan pada jangka waktu sesaat.

Investasi zakat merupakan konsep yang mulai dikembangkan dan dipraktekkan pada saat ini. Investasi zakat merupakan program penyaluran dana zakat melalui mekanisme investasi yang dilakukan oleh sebuah lembaga pemberdayaan sebagai investor dan masyarakat sebagai pelaku bisnis dan penerima manfaat. Investasi zakat difokuskan untuk membentuk lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat yang pembinaannya tetap dilakukan oleh lembaga investasi zakat.

Dalam investasi zakat, dana zakat tidak hanya disalurkan dalam bentuk modal usaha, akan tetapi lebih diprioritaskan kepada investasi dana zakat pada sektor-sektor yang mendatangkan keuntungan (profitable) dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi para mustahik. Selain itu, hasil atau keuntungan dari investasi zakat dapat disalurkan kembali kepada sektor-sektor yang menjadi kebutuhan para mustahik, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, sarana dan fasilitas umum dan gerakan dakwah.

C. Penutup

Konsep Ekonomi Islam dalam penanganan bencana didasari oleh tujuan dari syariah yang merupakan variabel pembentuk Ilmu Ekonomi Islam. Prioritas tujuan dalam penanganan bencana yaitu melindungi agama, diri, akal, keturuan dan harta. Dengan prioritas tersebut, segala bentuk upaya dalam penanganan bencana harus merujuk urutan prioritas bantuan yang akan diberikan. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw dalam meletakkan strategi pembangunan umat muslim pada periode awal di Madinah, yaitu dengan mendirikan masjid sebagai pusat pendidikan, membangun solidaritas, dan mendirikan pasar Islami. wallahu’alam.

Leave a comment

Filed under Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s