Epistemologi Ekonomi Islam

Oleh: Royyan Ramdhani Djayusman

Ilmu ekonomi dalam pandangan Barat dibangun dengan pendekatan empiris dan hanya menerima nilai-nilai yang bersifat postivis, sehingga mengesampingkan nilai-nilai yang bersifat normative. Oleh karena itu, para ilmuwa Barat para penganut paham positivistisme menganggap bahwa ilmu ekonomi Islam tidak dapat digolongkan sebagai suatu ilmu, dikarenakan menggunakan sumber nilai-nilai yang bersifat normative. Ilmu ekonomi Islam dinilai tidak dapat menjeaskan fakta sebagaimana adanya, karena pada saat ini tidak ada kegiatan sosio-ekonomik pada suatu tempat, komunitas ataupun negara muslim yang dapat dijelaskan dan dibuktikan oleh teori-teori ilmu ekonomi Islam.

Ilmu ekonomi Islam adalah ilmu ekonomi yang dibangun di atas sistem nilai-nilai Islam. Eksistensi ekonomi Islam terwujud pada prinsip-prinsip ekonomi islam yang tercermin dalam fenomena sosial generasi pertama muslim yang telah dijadikan sebagai disiplin keilmuan dalam diskursus akademik Islam. Nilai-nilai Islam telah dapat diprakktekan dengan baik dalam sebuah komunitas muslim yang hidup pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya (Khulafa’ Ar-Rasyidiin). Pada saat itu, kehidupan umat muslim diwarnai oleh nilai-nilai Islam dalam segala bidang, termasuk bidang  sosio-ekonomik. Dengan kata lain, umat muslim yang hidup pada masa Rasulullah adalah umat yang terbaik dalam hal mempraktekkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka.

Problem yang dihadapi oleh ilmu ekonomi islam adalah kesenjangan antara perilaku ideal atau yang seharusnya dilakukan dengan perilaku ril atau yang terjadi. Kesenjangan terjadi karena apa yang terjadi pada saat ini tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan. Artinya, perilaku riil para muslim pada saat ini tidak sesuai dengan perilaku ideal yang berdasarkan nilai-nilai Islam. Hal inilah yang kemudian dijadikan oleh para ekonom aliran positivisme sebagai alasa bahwa teori-teori ekonomi Islam tidak dapat dibuktikan dan ditemukan pada tataran empris. Oleh karena itu, ekonomi islam dianggap tidak memenuhi persyaratan untuk digolongkan sebagai ilmu.

Keadaan perekonomian negara-negara muslim masih sangat tertinggal jauh dari negara-negara Barat. System yang digunakan di berbagai negara muslim masih mengadopsi system perekonomian negara-negara Barat, akan tetapi perekonomian negara-negara muslim masih sulit berkembang. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan ilmu ekonomi yang berbeda dari pendekatan yang dilakukan di Barat. Pendekatan ilmu ekonomi yang dibangun disesuaikan dengan pandangan hidup (worldview) umat muslim. Dengan pendekatan ilmu ekonomi Islam, diharapkan terdapat paradigm baru untuk pembangunan ekonomi yang ideal bagi umat muslim maupun seluruh makhluk hidup.

Ilmu Ekonomi Islam dihadapkan dengan banyak tugas dan tantangan (Chapra, 2000). Pertama, merumuskan konsep perilaku ideal agen-agen ekonomi berdasarkan nilai-nilai Islam (normative) dan kemungkinan efeknya bagi perekonomian. Kedua, mengevaluasi dan menganalisis perilaku ideal agen-agen ekonomi (positivism) dalam perekonomian. Ketiga, membandingkan dan menjelaskan ketimpangan yang mungkin terjadi di antara perilaku ideal dan dan perilaku riil. Langkah keempat adalah menyarankan dan merumuskan strategi terbaik untuk mengarahkan perilaku agen-agen ekonomi sehingga dapat mendekati dan mencapai perilaku ideal yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Leave a comment

Filed under Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s