Menggali Hakikat Ekonomi Islam

(full paper) by Royyan Ramdhani Djayusman

ABSTRAK

Ilmu ekonomi Islam merupakan cabang ilmu pengetahuan yang unik dikarenakan menghubungkan antara nilai-nilai ketuhanan (ilahiyah) yang seharusnya terjadi dengan realitas apa adanya. Hal tersebut menjadikan ilmu ini sulit diterima dalam pandangan ilmiah Barat yang menganggap bahwa suatu ilmu harus dapat menjelaskan realitas yang ada, bukan apa yang seharusnya.
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan argumentasi tentang eksistensi ilmu ekonomi Islam dan menjelaskan ilmu tersebut secara ilmiah dengan menguraikan definisi, tujuan, metode dan mekanisme. Eksistensi dari ilmu ekonomi Islam dijelaskan dengan cara memaparkan dan menganalisa pendapat para sarjana ekonomi modern dan muslim secara komparatif dengan merujuk kepada sumber-sumber ilmu ekonomi Islam melalui pendekatan normatif.

Kata kunci: nilai-nilai ketuhanan (ilahiyah), realitas, eksistensi, definisi, tujuan, metode, mekanisme, komparatif dan normatif.

A. PENDAHULUAN

Ilmu ekonomi Islam masih banyak dipertanyakan eksistensinya sebagai ilmu oleh beberapa ilmuwan khususnya para ilmuwan Barat. Mereka yang pada umumnya menganut paham positivisme menganggap bahwa ilmu ekonomi Islam yang menjadikan nilai-nilai ketuhanan sebagai prinsip segala kegiatannya merupakan sesuatu yang tidak dapat diterima secara ilmiah. Hal tersebut dikarenakan ilmu ekonomi Islam tidak dapat dijelaskan dari realitas sosio-ekonomik yang terjadi dalam masyarakat saat ini.

Dalam pandangan positivisme, teori dihasilkan untuk menjelaskan fenomena dan realitas yang terjadi pada suatu komunitas masyarakat pada waktu tertentu. Teori yang dihasilkan harus memenuhi kriteria yang ditetapkan secara ilmiah, yaitu setiap teori harus dapat diuji oleh realitas yang terjadi. Apabila ternyata teori tersebut tidak dapat menjelaskan dan menerangkan realitas yang terjadi maka teori tersebut akan ditolak.

Menurut para positivis, nilai-nilai Islam yang diusahakan oleh para sarjana muslim untuk dimasukkan ke dalam ilmu ekonomi Islam adalah suatu usaha yang sia-sia. Sebagai ilmu, ekonomi Islam  harus dapat menjelaskan fakta sebagaimana adanya. Padahal, pada saat ini tidak ada kegiatan sosio-ekonomik pada suatu tempat, komunitas ataupun negara muslim yang dapat dijelaskan dan dibuktikan oleh teori-teori ilmu ekonomi Islam.

Asumsi para ilmuwan positivis dapat dijawab dengan memaparkan sejarah umat muslim. Nilai-nilai Islam telah dapat diprakktekan dengan baik dalam sebuah komunitas muslim yang hidup pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya (Khulafa’ Ar-Rasyidiin). Pada saat itu, kehidupan umat muslim diwarnai oleh nilai-nilai Islam dalam segala bidang, termasuk bidang  sosio-ekonomik. Dengan kata lain, umat muslim yang hidup pada masa Rasulullah adalah umat yang terbaik dalam hal mempraktekkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan mereka. Rasulullah membenarkan tingkat kualitas umat pada waktu itu dalam haditsnya yang diriwayatkan dari Nu’maan bin Basyiir bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baiknya umat ini yaitu umat yang hidup pada zaman di mana aku diutus, kemudian umat yang selanjutnya, kemudian umat selanjutnya, kemudian umat selanjutnya”. (HR. Ahmad)

Fakta tersebut mengungkapkan kebenaran eksistensi atau keberadaan sebuah komunitas muslim yang menjalankan nilai-nilai Islam secara ideal. Artinya, ada korelasi antara nilai-nilai Islam dengan realitas yang ada pada suatu komunitas muslim. Sehingga asumsi para ilmuwan yang beraliran positivisme tersebut di atas.

Apabila ilmu ekonomi Islam dapat diterima sebagai ilmu, maka konsekuensi dan tantangan selanjutnya adalah dapatkah ilmu ekonomi Islam dijelaskan secara ilmiah? Apa definisi yang sesuai untuk ilmu ekonomi Islam? Apa tujuan utamanya? Apa metode yang digunakan? Dan bagaimana mekanismenya?

Permasalahan-permasalahan tersebut akan dibahas secara kritis-analitis dalam tulisan ini. Analisa dilakukan dengan memaparkan teori dan pendapat para sarjana ekonomi modern dan muslim secara komparatif dan normatif.

B. PEMBAHASAN

B. 1. Definisi

Mannan (1970) menyebutkan bahwa ilmu ekonomi Islam  merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam. Berbeda dengan ilmu ekonomi Islam, Samuelson (1948) mendefinisikan ilmu ekonomi modern sebagai berikut:

Economics is the study of how societies use scare resources to produce valuable commodities and distribute them among different people“.

Chapra (2001) mendefinisikan Ilmu ekonomi Islam sebagai suatu cabang pengetahuan yang membantu merealisasikan kesejahteraan manusia melalui suatu alokasi dan distribusi sumber-sumber daya langka yang seirama dengan maqashid, tanpa mengekang kebebasan individu, menciptakan ketidakseimbangan atau melemahkan solidaritas keluarga dan sosial serta jaringan moral masyarakat.

Sedangkan menurut Cantori (Abu Rabi’, 1994) ilmu ekonomi Islam pada hakikatnya adalah suatu upaya untuk memformulasikan suatu ilmu ekonomi yang berorientasi kepada manusia dan masyarakat yang tidak mengakui individualisme yang berlebih-lebihan dalam ekonomi klasik.

Dalam definisi ilmu ekonomi Islam, masalah yang dibahas adalah manusia sebagai individu sosial dengan bakat nilai-nilai Islam yang melandasi setiap usaha dalam kehidupannya. Berbeda dengan definisi ilmu ekonomi modern yang menempatkan manusia sebagai individu sosial yang berusaha dalam kehidupan yang bebas nilai.

Dalam ilmu ekonomi modern, setiap manusia memiliki kebebasan pilihan untuk mengatasi kelangkaan terhadap sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Ilmu ekonomi Islam  memposisikan manusia agar dapat memilih di antara beberapa alternatif dengan berpedoman pada nilai-nilai Islam. Sehingga kepuasan tidak menjadi satu-satunya indikator pemenuhan kebutuhan manusia dalam ilmu ekonomi Islam, akan tetapi terdapat indikator lain yang membatasi kebutuhan manusia dalam kelangkaan tertentu. Batasan yang dimaksud adalah aturan-aturan agama yang menjamin ruang dan kesempatan kepada individu lainnya yang juga membutuhkan. Singkatnya, dalam ilmu ekonomi Islam  kebebasan setiap individu dibatasi oleh kebebasan individu lainnya.

B. 2. Tujuan

Tujuan dari ilmu ekonomi Islam tidak dapat dipisahkan dari tujuan penciptaan manusia dan fungsinya dalam kehidupan. Sebagai cabang dari ilmu pengetahuan Islam, ilmu ekonomi Islam membawa misi untuk merealisasikan tujuan dari agama Islam yang terkandung dalam Al-Qur`an dan Hadits. Meskipun terdapat beberapa perbedaan dalam praktik dan pendekatannya, ilmu ekonomi Islam secara konsisten merumuskan teori-teori yang merupakan formulasi dari tujuan-tujuan Islam.

Tujuan utama dari penciptaan manusia adalah agar mereka mengabdi (dalam arti yang luas) kepada Sang Penciptanya dengan menjalankan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu, manusia yang berhasil dalam pandangan Islam, adalah seorang manusia yang mampu menjalankan dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuhannya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an surat Adz-Dzaariyat (51) ayat 56:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Selain sebagai hamba, manusia juga berfungsi sebagai khalifah (wakil Allah) atau pemimpin di bumi ini. Allah SWT memberikan kepercayaan (amanah) kepada manusia untuk menerapkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupannya, baik bagi dirinya, sesamanya, dan alam di muka bumi. Manusia diberikan wewenang untuk menggunakan apa yang ada di bumi untuk memenuhi kebutuhannya dan kesejahteraannya. Dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 30, Allah SWT berfirman:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Terlepas dari fungsi manusia sebagai hamba dan wakil Allah (khalifah) di muka bumi, manusia memiliki berbagai keterbatasan. Dalam ayat di atas disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang selalu membuat kerusakan dan saling menumpahkan darah. Akan tetapi hal tersebut tidak menyebabkan Allah SWT menggagalkan rencana-Nya untuk menciptakan manusia sebagai wakil-Nya (khalifah) di muka bumi. Allah SWT mengetahui apa yang akan terjadi pada manusia kelak, oleh karena itu Dia menurunkan wahyu sebagai pedoman yang menuntun manusia kepada kehidupan yang sejahtera di dunia dan di akhirat.

Manusia akan diminta pertanggungjawaban atas kepercayaan (amanah) yang diberikan. Kepercayaan (amanah) tersebut akan dinilai apakah telah digunakan dengan baik atau sebaliknya. Apabila dikerjakan dengan baik akan dibalas dengan kebaikan pula, dan apabila dikerjakan dengan buruk akan dibalas dengan hukuman. Hal ini seperti apa yang telah dijelaskan dalam Al-Qur`an surat Al-Zalzalah (99) ayat 7-8:

“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”.

Islam secara jelas menerangkan fungsi dan tujuan manusia dalam kehidupannya. Manusia sebagai hamba dan wakil Allah (khalifah) memiliki hubungan yang mengikat dengan-Nya. Untuk dapat melaksanakan tugas-tugasnya, Allah telah menurunkan Al-Qur`an sebagai pedoman hidup bagi manusia. Dengan menerapkan nilai-nilai ketuhanan yang terkandung dalam Al-Qur`an, manusia akan dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan khususnya di dunia ini.

Kesejahteraan yang dimaksud dalam ilmu ekonomi Islam adalah keadaan di mana setiap manusia dapat memenuhi kebutuhan dasarnya. Menurut Imam Al-Ghazali (Chapra, 2001) tujuan utama syariah adalah mendorong kesejahteraan manusia, yang terletak dalam perlindungan terhadap agama (diin), diri (nafs), akal (aql), keturunan (nasl), dan harta benda (maal). Kesejahteraan dalam ilmu ekonomi Islam tidak selalu diukur dengan uang atau materi, akan tetapi kesejahteraan yang dimaksud adalah perwujudan dari kesejahteraan materi (lahiriyah) dan non-materi (bathiniyah).

B. 3. Metode

B. 3. 1. Wahyu dan Akal

Berbeda dengan pandangan Barat, pandangan Islam adalah menjadikan kebenaran wahyu dan akal sebagai satu kesatuan. Dalam Islam wahyu  (Al-Qur`an dan Hadits) diposisikan sebagai suatu kebenaran yang prinsip namun bersifat fleksibel dalam keadaan tertentu. Akal diposisikan pada tempat yang terhormat untuk membuktikan kebenaran-kebenaran ilahiyah yang terkandung dalam wahyu. Islam sangat memuji manusia yang dapat menggunakan akalnya untuk memikirkan tanda-tanda kebenaran ilahiyah tersebut. Dalam Al-Qur`an surat Al-Jaatsiyah (45) ayat 13 Allah SWT berfirman:

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.

Hoetoro (2007) menjelaskan bahwa manusia adalah citra ketuhanan di bumi (khalifatullah fil al-ardh), maka potensi fisik, intelektual, dan spiritual yang diberikan seharusnya diaktualisasikan menurut aturan-aturan Al-Qur`an dan Hadits. Apabila kemampuan manusia yang diberikan di atas telah dapat diaktualisasikan secara tepat dan benar, maka teori ilmu ekonomi Islam dapat menjawab permasalahan-permasalahan yang terdapat dalam ilmu ekonomi modern (Barat).

Muhajir (1998) berpendapat bahwa Al-Qur`an dan Hadits menurut telaah metodologis, bukan hanya menampilkan bukti kebenaran (aayah), tetapi juga pedoman kebajikan (hudan), dan anugerah Allah (rahmah). Karena itu iptek Islam bukan hanya mencari kebenaran, melainkan juga mencari kebijakan dan ridha Allah. Bila demikian, maka pendekatan dominan dalam iptek Islam yang sesuai dengan semangat Al-Qur`an adalah aksiologis.

Wahyu dan akal merupakan dasar pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Hal-hal yang berkaitan dengan kebenaran wahyu (ilahiyyah) merupakan sumber kebenaran yang tidak dapat terbantahkan meskipun ada yang tidak dapat dibuktikan secara empiris dan logis. Akan tetapi terdapat hal-hal lain yang membutuhkan penafsiran akal manusia. Penafsiran terhadap wahyu merupakan penjelasan tentang bagaimana seharusnya manusia itu berbuat sesuai dengan konteksnya. Pemberian ruang penafsiran dengan menggunakan akal dengan sumber-sumber terkait (Ijtihad) dalam ilmu ekonomi Islam merupakan indikasi bahwa cabang ilmu pengatahuan Islam dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan masyarakat.

B. 3. 2. Normatif dan Positif

Menurut Hoetoro (2007), pernyataan normatif adalah pernyataan yang preferensinya didasarkan kepada penilaian tertentu, dan menaruh perhatian kepada apa yang seharusnya terjadi (what ought to be). Sedangkan pernyataan positif menjelaskan realitas apa adanya (what is) yang didasarkan pada analisis logis dan eksperimentasi.

Ilmu ekonomi Islam menjelaskan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh setiap pelaku ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, sebagian ilmuwan Barat menggolongkan ilmu ekonomi Islam ke dalam ilmu pengetahuan normatif. Namun apabila ditinjau dari hubungan teori ilmu ekonomi Islam dengan realitas yang terjadi, ilmu ini juga dapat digolongkan sebagai ilmu pengetahuan positif. Berdasarkan hal tersebut, ilmu ekonomi Islam termasuk golongan ilmu pengetahuan normatif dan juga positif. Tentunya hal ini akan sangat sulit diterima para ilmuwan Barat yang memisahkan antara kedua hal tersebut (normatif dan positif) dalam teori keilmuan mereka.

Muhadjir (1998) menyebutkan tesis positivisme adalah: bahwa ilmu adalah satu-satunya yang valid, dan fakta-fakta sajalah yang mungkin dapat menjadi objek pengetahuan. Dengan demikian positivisme menolak keberadaan segala kekuatan atau subyek di belakang fakta, menolak segala penggunaan metode di luar yang digunakan untuk menelaah fakta.

Para ilmuwan Barat khususnya yang beraliran positivisme menolak ilmu ekonomi Islam sebagai sebuah ilmu. Penolakan tersebut dikarenakan ilmu ekonomi Islam tidak dapat menjelaskan realitas sosio-ekonomi masyarakat muslim. Hal ini didasarkan pada realitas kehidupan masyarakat muslim tidak mencerminkan sebuah masyarakat muslim ideal.

Penolakan di atas lebih dipengaruhi oleh perbedaan pandangan dunia (worldview) antara Barat dan Islam. Barat lebih memandang ilmu sebagai sebuah teori yang menjelaskan sebuah realitas yang ada dan terpisah dari hal-hal yang memiliki nilai moral dan etika. Sedangkan Islam memandang bahwa setiap kegiatan manusia di bumi ini tidak dapat terlepas dari nilai-nilai ketuhanan (ilahiyah). Karena itu, Islam menjadikan setiap permasalahan dalam ekonomi memiliki hubungan yang erat dengan bidang lainnya, seperti: keimanan; psikologi; sosiologi; hukum; politik ; dan budaya.

Oleh karena itu, metode dan pendekatan dalam ilmu ekonomi Islam tidak dapat disamakan dengan metode dan pendekatan yang digunakan dalam pandangan dunia (worldview) Barat. Ilmu ekonomi Islam tidak seharusnya terjebak dalam metode dan pendekatan Barat dalam menjelaskan teori-teorinya. Seharusnya, ilmu ekonomi Islam dapat dipahami dengan menggunakan metode dan pendekatan yang dapat diterima dalam pandangan Islam (Islamic Worldview). Metode dan pendekatan yang sesuai dengan pandangan Islam (Islamic worldview) akan dapat terwujud apabila ilmu ekonomi Islam dipahami sebagai satu kesatuan dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan islam lainnya.

Pemisahan antara normatif dan positif dalam memahami ilmu ekonomi Islam  adalah sebuah kekeliruan yang menyesatkan. Ilmu ekonomi Islam  harus dipandang dalam kacamata positivisme dan normativisme sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pemisahan hanya akan mendatangkan kemunduran dalam pengembangan keilmuan Islam, khususnya dalam pengembangan ilmu ekonomi Islam.

B. 3. 3. Deduktif dan Induktif

Perkembangan ilmu pengetahuan di Barat pada beberapa dewasa ini telah menghasilkan beberapa pemikiran dan teori baru tentang beberapa cabang ilmu pengetahuan. Di antaranya adalah metodologi dan pendekatan dalam merumuskan suatu teori. Fenomena di atas berakibat kepada pemikiran beberapa sarjana muslim pada masanya. Para sarjana muslim sempat mengalami kesulitan dalam memilih metode dan pendekatan  untuk merumuskan teori dalam ilmu pengetahuan Islam. Sebagian mereka cenderung menggunakan metode dan pendekatan Barat, sehingga teori yang dihasilkanpun tidak atau kurang sesuai dengan semangat dan nilai-nilai Islam. Akibatnya, kajian ilmu pengetahuan Islam seolah-olah kehilangan identitas aslinya. Menurut Chapra (2001) merupakan suatu usaha yang sia-sia untuk mencari suatu metode tunggal bagi penerimaan dan penolakan proposisi dalam ilmu ekonomi Islam, di mana lingkupnya jauh lebih luas dan tujuannya lebih berat.

Selanjutnya, Chapra (2001) berpendapat bahwa pluralisme metodologi merupakan hal yang paling cocok dan ini tampak dipilih dan diadopsi oleh para sarjana muslim pada masa lalu. Siddiqi (Chapra, 2001) menyebutkan bahwa tradisi Islam dalam ilmu ekonomi adalah kebebasan formalisme, yang menfokuskan pada makna dan tujuan dengan suatu metodologi yang fleksibel.

Meskipun dalam sejarah keilmuan Islam tidak dikenal istilah metode deduktif dan induktif, kedua metode tersebut dapat digunakan dalam kajian keilmuan Islam. Mannan (1997) menjelaskan bahwa metode deduktif dapat digunakan pada ekonomi Islami dalam mendeduksikan prinsip sistem Islam dari sumber-sumber hukum Islam, sedangkan metode induktif dapat digunakan untuk mendapatkan penyelesaian dari problema ekonomik dengan menunjuk pada keputusan historik yang sahih.

Hoetoro (2007) menyebutkan bahwa dalam tradisi ilmiah Islam, teori As-Syatibi tentang tujuan-tujuan syariah (maqashid syari’ah) telah mengawali sintesis metode deduktif dan induktif. Aturan-aturan syari’ah yang bersifat partikular (juz’i) diatur oleh hukum-hukum universal (qawanin kulliyah) yang diketahui melalui survey komprehensif atas pernyataan-pernyataan syariah. Kemudian dengan menggunakan prosedur induksi lengkap (istiqra kulli) seseorang dapat beranjak dari aturan-aturan partikular ke hukum-hukum universal syariah.

Dengan mengacu kepada beberapa pendapat tersebut di atas, secara umum dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya tradisi keilmuan Islam telah memiliki metode dan pendekatannya sendiri. Yaitu metode maqashid syari’ah yang dikemukakan oleh Ibrahim Ibn Musa As-Syatibi pada abad VIII Masehi. Pada intinya metode ini mengandung unsur deduktif dan induktif. Ilmu ekonomi Islam dapat menggunakan metode deduktif atau induktif, ataupun kedua-duanya secara bersamaan seperti yang terdapat dalam metode maqashid syari’ah.

B. 4.  Mekanisme

Dalam wilayah praktis, ilmu ekonomi Islam membutuhkan beberapa mekanisme untuk menjaga agar setiap kebijakan ekonomi yang telah ditetapkan dapat dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan nilai-nilai Islam yang ditetapkan. Selain itu, mekanisme juga berfungsi sebagai alat untuk merealisasikan tujuan. Tujuan dari ilmu ekonomi Islam akan mudah tercapai apabila aturan mekanisme penjabaran teorinya baik dan jelas. Di antara mekanisme yang dimaksud adalah filter keimanan dan filter pasar (harga).

B. 4. 1. Filter Keimanan

Keimanan merupakan faktor terpenting dalam pengawasan perilaku para agen ekonomi. Karena pentingnya keimanan, Imam Al-Ghazali dan Syatibi mengurutkan keimanan (agama) pada urutan pertama dari maqashid syari’ah lainnya. Menurut Chapra (2001), keimanan pada urutan pertama karena menyediakan pandangan dunia yang cenderung berpengaruh pada kepribadian manusia. Selanjutnya iman juga menciptakan keseimbangan antara dorongan material dan spiritual dalam diri manusia.

Aturan dan nilai pada filter keimanan merupakan implementasi dari nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur`an dan Hadits. Nilai-nilai yang dimaksud adalah nilai kejujuran, amanah, keikhlasan, kesederhanaan, persaudaraan (ukhuwah), keadilan, keseimbangan, universal, kebaikan (mashlahah) dan lainnya.

Filter keimanan memiliki tujuan menjaga keseimbangan dalam suatu lingkungan dan membentuk ikatan kekeluargaan dan solidaritas sosial di antara para pelaku ekonomi. Dengan terbentuknya ikatan kekeluargaan dan solidaritas sosial akan terbentuk pula iklim atau keadaan yang stabil untuk kegiatan ekonomi. Chapra (2001) menyebutkan adanya suatu lingkungan yang cocok akan membantu reformasi elemen manusia di dalam pasar, sehingga melengkapi sistem harga dalam memaksimalkan efisiensi dan pemerataan pada sektor penggunaan sumber-sumber daya manusia dan material.

B. 4. 2. Filter Pasar (Harga)

Filter keimanan tidak dapat dengan sendirinya membentuk mekanisme pasar yang ideal. Dalam hal tersebut filter keimanan hanya sebagai pelengkap filter kedua yaitu filter pasar atau harga. Mekanisme pasar dan harga tidak dapat dipisahkan dari fungsi permintaan (demand) dan penawaran (supply).

Filter pasar (harga) merupakan filter yang lebih bersifat paktis dan merupakan lanjutan dari filter keimanan yang bersifat ideologis dan prinsipil. Sehingga mekanisme pada filter pasar (harga) bersifat fleksibel dan memungkinkan untuk dikembangkan. Syafi’I (2001) menyebutkan dalam Islam  dikenal istilah tsawabit wa mutaghayyirat (principles and variables). Prinsip-prinsip (tsawabit) merupakan sebuah pedoman bersumber dari sumber-sumber hukum Islam  yang bersifat tetap. Dalam ilmu ekonomi Islam  yang merupakan prinsip-prinsip (tsawabit) adalah larangan penipuan (tadlis), judi (maisir), spekulasi (gharar), bunga (riba), suap (riswah) dan lainnya.

Sedangkan variabel-variabel (mutaghayyurat) dalam ilmu ekonomi Islam adalah segala sesuatu yang bersifat teknis dan praktis seperti: skema investasi bagi hasil (mudharabah), berserikat (musyarakah), jual beli (bai’), gadai (rahn) dan variasi-variasi lainnya. Sepanjang hal-hal yang bersifat teknis dan praktis tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai dalam Islam, maka hal tersebut dapat diterima dalam ilmu ekonomi Islam.

Prinsip-prinsip (tsawabit) dan variabel-variabel (mutaghayyurat) menjelaskan bahwa ilmu ekonomi Islam sangat responsif terhadap perkembangan dan perubahan yang terjadi di masyarkaat sepanjang hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-pinsipnya yang merupakan penjabaran dari nilai-nilai Islam.

Meskipun dalam ilmu ekonomi Islam terdapat filter keimanan dan filter pasar (harga) secara otomatis tidak menjamin setiap individu atau pelaku ekonomi memiliki kesadaran moral dan prioritas sosial dalam masyarakat. Sehingga perlu adanya peran negara dalam menjaga keseimbangan dan menegakkan nilai moral dalam kehidupan sosio-ekonomik. Akan tetapi peran negara hanya sebatas pengawas dan penjaga keseimbangan tersebut tanpa harus menjadi pelaku ekonomi di dalam pasar.

C. KESIMPULAN

Ilmu ekonomi Islam adalah sebuah ilmu yang mengimplementasikan dan memiliki hubungan yang erat antara nilai-nilai ketuhanan (ilahiyah) dengan realitas apa yang ada di masyarakat. Sehingga pendekatan yang dominan dalam ilmu ekonomi Islam adalah pendekatan yang bersifat aksiologis. Pendekatan aksiologis merupakan pendekatan yang menerangkan apa yang seharusnya dilakukan.

Meskipun ilmu ekonomi Islam bersumber dari nilai-nilai dalam Al-Qur`an dan Al-Hadits, tidak berarti ilmu ini tidak dapat dirumuskan dari fenomena dan realitas yang ada dalam suatu komunitas tertentu. Sehingga ilmu ini tidak dapat dipahami melalui pendekatan normatif ataupun positif. Pada dasarnya ilmu ini dapat dijelaskan melalui perpaduan antara kedua pendekatan tersebut dan tidak dipisahkan sebagaimana yang terdapat pada ilmu ekonomi modern.

Teori-teori dalam ilmu ekonomi Islam dapat dirumuskan dengan metode ekonomi modern yaitu metode deduktif dan induktif ataupun kedua-duanya secara bersamaan. Metode ini sesuai dengan metode yang dikemukakan oleh seorang sarjana muslim yang bernama Ibrahim Ibn Musa As-Syatibi dengan metode maqashid syari’ah-nya pada abad VIII Masehi sebelum metode modern (deduktif dan induktif) ditemukan.

Tujuan ilmu ekonomi Islam adalah kesejahteraan manusia dalam arti yang lebih luas dan lebih berat. Kesejahteraan yang dimaksud tidak selalu diukur dengan materi atau uang, akan tetapi terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan dasar mansusia yang merupakan implementasi dari tujuan-tujuan syariah (maqashid syari’ah).

Untuk menjamin dan menjaga keseimbangan kehidupan sosio-ekonomik, ditetapkan suatu mekanisme yang berupa filter atau penyaring dari setiap produk atau aktivitas ekonomi. Filter keimanan merupakan landasan atau prinsip dalam seluruh aktivitas. Sedangkan filter pasar (harga) merupakan filter yang lebih bersifat praktis dan fleksibel, sehingga filter ini dapat berkembang dan berubah selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.


D. DAFTAR PUSTAKA

Adnan, Mochamad, 2003, “Petunjuk Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis”, Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Antonio, Muhammad Syafi’i, 2001, “Bank Syariah Dari Teori ke Praktik”, Gema Insani Press, Jakarta.

Chapra, M. Umer, 2001, “Masa Depan Ilmu Ekonomi Sebuah Tinjauan Islam” (terjemahan dari: The Future of Economics: An Islamic Perspective), Gema Insani Press, Jakarta.

Hoetoro, Arif, 2007, “Ekonomi Islam Pengantar Analisis Kesejarahan dan Metodologi”, BPFE UNIBRAW, Malang.

Mannan, Muhammad Abdul, 1997, “Teori dan Praktek Ekonomi Islam” (terjemahan dari: Islamic Economics, Theory and Practice), Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta.

Muhadjir, H. Noeng, 1998, “Filsafat Ilmu Telaah Sistematis Fungsional Komparatif”, Rake Sarasin, Yogyakarta.

Naqvi, Syed Nawab Haider., 2003, “Menggagas Ilmu Ekonomi Islam” (terjemahan dari: Islam, Economics, and Society), Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Pena, Tim Prima, 2006, “Kamus Ilmiah Populer”, Gitamedia Press, Surabaya.

Samuelson, Paul. A., 2005, ” Economics”, 8th ed., Mc. Graw Hill, New York.

Leave a comment

Filed under Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s