Dimensi Keberagamaan Kuli Angkut Barang

(Studi Kasus Kuli Angkut Barang di Terminal Giwangan Yogyakarta 2009)

Oleh: Royyan Ramdhani Djayusman

Kuli angkut barang merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam bidang penyedia jasa. Kuli angkut barang dapat dijumpai di pasar, terminal dan stasiun. Keberadaan kuli angkut barang merupakan fenomena sosio-ekonomik yang tidak dapat dihindari, mereka adalah sekian banyak manusia yang harus mempertahankan hidupnya dengan berprofesi sebagai kuli angkut barang.

Sebagai mayoritas, umat muslim tentunya memiliki beragam aktivitas ekonominya termasuk sebagai kuli angkut barang. Namun, apakah nilai-nilai agama Islam juga mengarahkan mereka dalam beraktivitas sebagai kuli angkut barang?

A. Pendahuluan

A. 1. Latar Belakang

Manusia yang beragama akan mengamalkan apa yang menjadi ajaran agama yang diyakininya. Sikap ini akan tercermin dalam kehidupan sehari-hari; baik kehidupan sosial maupun ekonomi. Tingkat kesesuaian antara agama dengan kehidupan sosial dan ekonomi dapat dinilai dengan melihat bagaimana pandangan keagamaan mendukung atau menghambat realisasi nilai-nilai yang diperlukan seperti: tekanan pada nilai-nilai kebendaan dan kekayaan, etos kerja, kerja keras, sikap hemat dan kejujuran (Raharjo, 1990).

Terkait dengan perilaku beragama bahwa agama mempunyai semangat (spirit) sebagaimana dalam bukunya Weber, The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism yang menjadi motivator yang luar biasa dan mampu direalisasikan oleh para pemeluk protestan dalam fenomena kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah dalam kegiatan proses produksi atau dalam industri yang memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan yang satu dengan lainnya sebagai sebuah sistem ekonomi yang lebih maju (Smith, 1985).

Weber menyebutkan konsep tentang adanya korelasi antara agama dan tingkah laku ekonomi. Weber dalam konsep ini mencoba menganalisa doktrin teologis dari sekte protestanisme, yaitu jalan hidup satu-satunya yang akan diterima oleh Tuhan, bukan melampaui moralitas duniawi dengan menjalani hidup yang menjauhi kesenangan jasmani di biara, melainkan dengan melaksanakan kewajiban dengan dibebani kepada tiap-tiap individu, sesuai dengan posisinya di dunia ini (Raharjo,1990).

Keberadaan kuli angkut barang di terminal yang letaknya berdekatan dengan pasar induk sayuran dan buah-buahan Giwangan dinilai sangat strategis. Selain itu, posisi terminal Giwangan sebagai terminal yang menghubungkan beberapa kota besar di Jawa dan Sumatera merupakan faktor pendukung keberadaan kuli angkut barang tersebut.

Kuli angkut barang merupakan salah satu penyedia jasa di terminal penumpang Giwangan Yogyakarta. Dalam aktivitasnya, para kuli menawarkan jasanya secara langsung kepada para penumpang yang baru turun dari bus. Akan tetapi, keberadaan kuli angkut barang yang menawarkan jasanya secara tidak baik dan cenderung terus “mengejar” dinilai mengurangi kenyamanan sebagian penumpang.

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar, yaitu sebesar 86,01% (sensus tahun 2000), tentunya dimensi keberagamaan dapat tercermin dari beberapa perilaku para pemeluk agama (Islam). Para kuli angkut barang sebagai bagian dari popuasi muslim tidak dapat dipisahkan dari dimensi keberagamaannya. Idealnya, pemahaman keagamaan akan mempengaruhi perilaku para kuli angkut barang dalam memberikan jasanya.

Meskipun agama memiliki korelasi terhadap perilaku ekonomi, namun keberadaan agama sebagai panduan perilaku seringkali tersingkirkan oleh kepentingan ekonomi sesaat. Fenomena ini tercermin dari beberapa perilaku kuli angkut barang di terminal penumpang Giwangan. Di antara perilaku tersebut adalah memberikan informasi harga yang tidak jelas kepada penumpang yang akan menggunakan jasa angkut barang.

Dalam ajaran agama Islam, setiap perjanjian kerja diharuskan memenuhi beberapa persyaratan, salah satunya adalah kesepakatan tentang besarnya upah yang akan diterima oleh pekerja. Rasulullah SAW melarang umatnya untuk memperkerjakan seorang pekerja sebelum meberitahu upah yang akan diberikan dari pekerjaan tersebut.

A. 2. Rumusan Masalah

Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana perilaku para kuli angkut barang di terminal Giwangan? Apakah perilaku mereka sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam (ekonomi Islam)?

A. 3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perlilaku para kuli angkut barang di terminal Giwangan dan kesesuaian perilaku para kuli dengan prinsip-prinsip ajaran Islam (ekonomi Islam).

A. 4. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif untuk memberikan gambaran terhadap suatu fenomena sosial. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan pengamatan. Metode wawancara dilakukan untuk menggali informasi dan permasalahan yang dialami oleh kuli angkut barang yang bekerja di terminal Giwangan. Sedangkan metode pengamatan dilakukan dengan mengamati tingkah laku dan percakapan para kuli angkut barang pada saat bekerja. Penentuan informan dilakukan dengan mengamati masing-masing kuli yang sedang beristirahat dan memiliki sikap yang ramah dan terbuka.

A. 5. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Terminal Penumpang Yogyakarta (TPY) atau juga sering disebut sebagai Terminal Giwangan. Penelitian terhadap para kuli angkut barang dilakukan di tempat kedatangan pada lantai satu.

B. Kerangka Teori

B. 1. Agama

Agama dengan aturan-aturannya mempunyai wilayah yang kompleks, yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Agama memberikan tuntunan bagaimana manusia harus berbuat untuk dirinya sendiri, bagaimana manusia harus berhubungan dengan Penciptanya, bagaimana harus berhubungan dengan sesama manusia. Tuntunan-tuntunan itu pada akhirnya ditujukan untuk kemaslahatan dan kebaikan bagi manusia itu sendiri (Hidayat, 2001).

Agama dalam sistem keyakinan dapat menjadi bagian dari inti sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan menjadi pendorong, penggerak dan pengontrol bagi tindakan-tindakan anggota masyarakat untuk tetap berjalan dengan kebudayaan dan ajaran agama.(Prawiranegara, 1997)

Menurut Max Weber (2002), agama adalah niscaya selalu bersinggungan dengan dinamika kultural umatnya, artinya agama merupakan suatu pertautan antar budaya. Kehidupan manusia tidak lepas dari apa yang kita sebut sebagai alam manusia dan apa yang kita sebut sebagai alam budaya, atau dapat juga dikatakan bahwa agama merupakan seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, sekaligus mengatur hubungan manusia dengan manusia dan mengatur hubungan manusia dengan  lingkungannya. Manusia adalah makhluk yang religius karena sejak lahir dia telah dianugerahi potensi untuk menentukan pilihan tentang segala sesuatu bahkan kepada sampai apa yang diyakininya. Bahwa hanya agama sajalah yang bisa membuat manusia menjadi orang beriman dan mengatasi sifat mementingkan diri sendiri dan egoisme melalui keimanan.

Memahami agama sebagai gejala kebudayaan tentu bersifat kontekstual, yakni memahami fenomena keagamaan sebagai bagian dari kehidupan sosio-kultural. Keyakinan religius memberikan kemungkinan bagi agama untuk berfungsi sebagai pedoman dan petunjuk bagi pola tingkah laku dan corak sosial. Disinilah agama dapat dijadikan sebagai instrumen integratif bagi masyarakat. Karena agama tidak berupa sistem kepercayaan belaka, melainkan juga mewujud sebagai perilaku individu dalam sistem sosial (Hidayat, 2000).

Sedangkan agama dari sudut antropologi merupakan salah satu unsur kebudayaan, karena agama yang dianut manusia menjadi bagian dari sistem kognitifnya yang berfungsi sebagai pedoman bagi tingkah laku mereka. Hal ini sama dengan sistem pengetahuan dan gagasan yang dimiliki sekelompok manusia dalam kesenian, ekonomi maupun politik. Karena itu dalam penelitian antropologi fenomena agama diperlakukan sama dengan unsur-unsur kebudayaan lainnya. Hal ini akan lebih jelas kalau dilihat pada bentuk interpretasi yang salah satunya adalah tentang perilakunya. Sehingga perilaku keagamaan adalah suatu tindakan yang diorentasikan kepada yang suci, dalam hal ini menyangkut tentang hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan  lingkungan, dan manusai dengan manusia (Steward:1976).

Dalam konteks Antropologi interpretasinya Geertz (Abdullah, 2006) agama didefinisikan sebagai suatu simbol yang bertindak untuk menetapkan dorongan hati dan motivasi yang kuat, menembus, dan bertahan lama pada manusia dengan cara memformulasikan berbagai konsep tentang suatu tatanan umum dari yang hidup dan mewarnai konsep-konsep ini dengan aura faktualitas, sehingga dorongan hati dan motivasi itu tampak realistik.

Mengikuti pandangan teori fungsional, agama dapat dilihat pada fungsinya dalam mentrandensikan pengalaman hidup sehari-hari sehingga menjadi pengalaman yang bermakna. Manusia sering mengalami krisis makna berkenaan dengan eksistensinya di dunia yang sarat diliputi dengan persoalan-persoalan eksistensial mendasar di seputar kelangkaan sumber daya, ketidakberdayaan diri, dan ketidak pastian hidup. Dalam konteks inilah manusia membutuhkan agama. Ia menjadi pedoman manusia dalam menghadapi persoalan-persoalan eksistensial mendasar yang melingkupi kehidupannya tersebut. Dalam kondisi ketidakpastian hidup misalnya, agama dapat memberinya semacam pegangan sehingga kehidupan dunia menjadi bermakna (O’dea: 1996).

Dalam bahasa sosiolog Robert Bellah, agama menyediakan konsepsi dan seperangkat simbol jati diri yang memberikan kepada manusia kepastian makna hidupnya, baik secara kognitif maupun motivasional. Secara lebih singkat, pandangan Bellah, dapat dikatakan bahwa agama merupakan bentuk dan tindakan simbolik yang menghubungkan manusia dengan kondisi-kondisi eksistensi tertinggi (Bellah, 2000)

B. 2. Keagamaan

Keagamaan pada intinya berkaitan dengan hakikat yang suci (the sacred) atau dunia di luar manusia (the beyond). Dalam praktik-praktik yang simbolik sifatnya, kehidupan keagamaan menyangkut hubungan manusia dan sikapnya terhadap hakikat yang suci, serta apa yang dianggapnya sebagai implikasi praktis dari keberadaan yang suci tersebut terhadap kehidupan sehari-hari. (O’dea, 1996). Namun meski berkaitan dengan the sacred, kehidupan keagamaan manusia tetap tidak kebal terhadap perubahan. Sebagaimana dicatat Weber, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, kehidupan keagamaan masyarakat ditandai dengan kecenderungan yang sangat besar ke arah rasional. Secara teoritik dia kemukakan bahwa kehidupan keagamaan umat manusia mengalami apa yang disebutnya rasionalisasi kehidupan keagamaan. Ini terlihat jelas dalam usaha-usaha untuk melakukan sistematisasi atau pembentukan suatu etika keagamaan dan konsep-konsep yang sistematis tentang hubungan manusia dengan yang suci berdasarkan atas suatu pemahaman metafisik tertentu (Bendix:1962).

Pemahaman keagamaan yang telah dirasionalkan ini menggantikan kehidupan keagamaan tradisional yang ditandai dengan bercampur aduknya antara tindakan-tindakan yang bersifat keagamaan dan hal-hal yang bersifat non-keagamaan. Konsepsi dunia agama tradisional biasanya bersifat monistis. Semua cabang kehidupan manusia digambarkan ke dalam satu lingkaran simbolis yang utuh dan padu. Secara struktural, agama tradisioanl terdiri dari berbagai macam entitas sakral yang didefinisikan secara konkrit, tidak abstrak sifatnya. Sebaliknya, agama yang telah dirasionalkan bersifat lebih abstrak dan secara logis lebih koheren. Ia dirumuskan secara lebih umum dan menyeluruh. Masalah-masalah makna yang dalam agama tradisional diungkapkan secara implisit dan terpisah-pisah, dalam agama yang telah dirasionalisasikan, dirumuskan secara lebih inklusif sehingga menimbulkan sikap keagamaan yang menyeluruh. Masalah makna tersebut dikonseptualisasikan lebih sebagai ciri-ciri eksistensi manusia yang bersifat univesrsal dan inheren apa adanya daripada dilihat sebagai segi-segi yang tidak terpisahkan dari peristiwa-peristiwa khusus tertentu. (Geertz, 1992)

Menurut Geertz, proses rasioanalisasi ini biasanya terjadi berkaitan dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan yang lebih luas dan umum tentang makna kehidupan keagamaan sehingga membutuhkan jawaban-jawaban baru yang sama umum dan luasnya, melebihi pemahaman-pemahaman keagamaan sebelumnya. Hal ini terjadi biasanya karena dipicu oleh munculnya krisis kehidupan sosial yang mendalam, seperti perubahan-perubahan ssosial yang luas dan terjadi sangat cepat. Namun krisis-krisis sosial yang mendalam semacam itu, lebih lanjut dikemukakan Geertz, tidak selalu menjadi penentu bagi munculnya proses rasionalisasi kehidupan keagamaan, karena banyak juga krisis-krisis sosial besar yang tidak mendorong terwujudnya proses semacam itu (Geertz, 1992)

Pada dasarnya Bellah (2006), memang tidak menjelaskan tentang asal usul agama, penjelasannya adalah berapa kemunculan model keberagamaan yang menggantikan model keberagamaan sebelumnya. Dalam pengertian keberagamaan berarti bagaimana agama diinterpretasi dan diekspresikan dengan serangkaian kegiatan tindakan yang dibalut dengan muatan makna di dalamnya.

B. 3. Keberagamaan

James (2003) menyebutkan keberagamaan sebagai sebuah sistem yang menyumbang makna dan motivasi terkait dengan korpus pengetahuan yang dimilki oleh manusia  tentang Tuhan, adalah sebagai perasaan tindakan dan pengalaman setiap orang dalam kesendiriannya seiring dengan pemahamannya dalam bersikap dan berhubungan dengan apa yang mereka anggap sebagai Tuhan.

Dalam kajian keagamaan, Jalaluddin Rahmat menyebutkan ada dua kajian agama, yaitu ajaran dan keberagamaan. Ajaran adalah teks lisan atau tulisan yang sakral dan menjadi sumber rujukan bagi suatu pemeluk agama. Sedangkan keberagamaan (religiousity) adalah perilaku yang bersumber langsung atau tidak langsung kepada ajaran agama (Abdullah,1989). Keberagamaan inilah yang menjadi tolok ukur pemahaman seseorang terhadap agamanya. Bagaimana kehidupan beragama mereka, seberapa jauh tingkat melek agama para pengikut agama.

Terkait dengan perilaku beragama bahwa agama mempunyai semangat (spirit) sebagaimana dalam bukunya Weber, The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism yang menjadi motivator yang luar biasa dan mampu direalisasikan oleh para pemeluk protestan dalam fenomena kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah dalam kegiatan proses produksi atau dalam industri yang memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan yang satu dengan lainnya sebagai sebuah sistem ekonomi yang lebih maju (Smith, 1985).

Weber menyebutkan konsep tentang adanya korelasi antara agama dan tingkah laku ekonomi. Weber dalam konsep ini mencoba menganalisa doktrin teologis dari sekte protestanisme, yaitu jalan hidup satu-satunya yang akan diterima oleh Tuhan, bukan melampaui moralitas duniawi dengan menjalani hidup yang menjauhi kesenangan jasmani di biara, melainkan dengan melaksanakan kewajiban dengan dibebani kepada tiap-tiap individu, sesuai dengan posisinya di dunia ini (Raharjo,1990).

Tingkat kesesuaian antara agama dengan kehidupan sosial dan ekonomi dapat dinilai dengan melihat bagaimana pandangan keagamaan mendukung atau menghambat realisasi nilai-nilai yang diperlukan seperti: tekanan pada nilai-nilai kebendaan dan kekayaan, etos kerja, kerja keras, sikap hemat dan kejujuran (Raharjo, 2001).

Menurut psikolog R Stark dan C Y. Glock dalam karyanya tentang Dimensi-dimensi Keberagamaan (Robertson,1993), keberagamaan adalah ketaatan atau komitmen kepada agama yang meliputi banyak unsur yaitu keyakinan terhadap doktrin agama, etika hidup, kehadiran dalam acara peribadatan, dan pandangan-pandangan yang menunjukkan ketaatan pada agama. Diantara yang mendasari pengertian keberagamaan adalah adanya dimensi-dimensi keberagamaan, yaitu :

  1. Dimensi keyakinan agama; dimensi ini berisikan pengharapan-pengharapan dimana orang yang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu, mengakui kebenaran-kebenaran dari doktrin-doktrin tersebut.
  2. Dimensi praktek agama; dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya.
  3. Dimensi pengalaman agama; dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan sensasi-sensasi yang dialami seorang pelaku agama.
  4. Dimensi pengetahuan agama; dimensi ini mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritual-ritual, kitab-kitab suci dan tradisi.

Menurut Alfort (Aribawa, 2004) mendefinisikan keberagamaan melalui dua tipe :

  1. Keberagamaan ekstrinsik;agama yang diperalat dan dimanfaatkan, agar berguna untuk mendukung kepercayaan diri, memperbaiki status, bertahan melawan kenyataan, atau melawan kenyataan atau memberi sanksi kepada cara hidup.
  2. Keberagamaan intrinsik;agama yang dihayati,iman dipandang bernilai pada dirinya sendiri,yang menuntut keterlibatan san mengatasi kepentingan diri. Agama intrinsik ini tampak pada para syahid yang mengorbankan hidup demi sesuatu yang luhur.

Keberagamaan berarti ketaatan atau komitmen kepada agama yang meliputi banyak unsur yaitu keangotaan gereja, keyakinan terhadap doktrin-doktrin agama, etika hidup, kehadiran dalam tata cara periadatan . Pandangan-pandangan dan banyak lagi tindakan yang menunjukkan ketaatan kepada agama. (Strak dan Blocks, 1993).

B. 4. Perilaku Ekonomi

Ekonomi dalam arti antropologisnya berhubungan dengan praktis dan produktif. Pengertian praktis menunjuk pada tindakan yang ditunjukkan pada manusia lain, sedangkan produktif menunjuk pada tindakan yang ditunjukkan terhadap alam. Hubungan ekonomis adalah hubungan praktis dimana manusia saling berhungan melalui produksi. Hubungan antara manusia inilah yang memberi makna pada realitas ekonomi. Hal ini dilihat dari aspek yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan  dari manusia terutama kebutuhan fisik, seperti sandang, pangan, papan dan kesehatan. Pemenuhan kebutuhan dasar ini  menjadi prasyarat bagi perkembangan diri manusia  seperti rasa aman, kebersamaan, kreativitas dan lain sebagainya. Oleh karena itu  ekonomi mempunyai nilai-nilai yang tidak hanya dibatasi pada  perhitungan fisik, melainkan juga mengandung nilai-nilai etis  (Suyadi, 1997).

Peran sistem nilai budaya perlu dijelaskan dalam hubungannya dengan perilaku ekonomi manusia, khususnya yang berkaitan dengan perilaku ekonomi manusia. Adanya asumsi yang mengatakan bahwa perilaku dan sikap manusia merupakan perwujudan dari sistem nilai yang hidup dalam suatu komunitas sosial, mengisyaratkan adanya warna variabel sistem nilai budaya dalam setiap perilaku manusia (Polomo,1984).

Dan manusia menurut Jenifer (1987) adalah makhluk yang hampir semua kegiatan hidupnya termasuk kegiatan ekonomi terlepas dari kebudayaan yang melikupinya, meskipun menurut Ritzer (1985) tindakan manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh norma-norma kebiasaan, nilai-nilai dan lain sebagainya, yang semuanya itu terangkum dalam suatu konsep yang disebut fakta sosial. Manusia merupakan aktor yang kreatif dari realitas sosialnya. Realitas sosial ini bukan statis dan paksaan fakta sosial.

Gejala ekonomi sebagai kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mencakup tiga kegiatan utama yaitu : produksi, distribusi dan konsumsi. Produksi adalah proses yang diorganisasi  secara sosial, adalah menciptakan barang dan jasa. Distribusi adalah proses alokasi barang dan jasa yang diproduksi oleh masyarakat. Kegiatan itu meliputi siapa mendapat apa, bagaimana dan mengapa . Sementara itu, konsumsi adalah tindakan menghabiskan  atau mengurangi kegunaan suatu benda atau jasa baik dilakukan secara sekaligus atau bertahap (Suyadi,1997).


C. Data dan Analisis

C. 1. Gambaran Umum Terminal Giwangan

Terminal Penumpang Yogyakarta atau yang juga disebut Terminal Giwangan dibangun di atas lahan seluas 5,8 ha di tepi Jl. Lingkar Selatan, Terminal Giwangan mengikuti tata ruang Perda No. 6 Tahun 1994 tentang Rencana Tata Ruang Untuk Kota (RTRUK). Sebagai satu-satunya terminal bertipe A, terminal ini mampu mengurangi kepadatan lalu lintas yang terjadi di pusat kota. Selain itu, kehadirannya di kawasan Giwangan membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Bangunan terminal kebanyakan terdiri dari dua lantai. Lantai pertama difungsikan untuk aktivitas angkutan umum yang dibagi per wilayah dan jenis angkutan. Misalnya untuk angkutan AKAP diletakkan di ujung timur terminal dan AKDP di bagian tengah. Kemudian lantai kedua untuk aktivitas para pengguna jasa transportasi dan termasuk di dalam lantai dua, terdapat ruang tunggu dan berbagai fasilitas penunjang lain. Tabel 1 menunjukan bagian-bagian utama terminal Giwangan.

Tabel 1

Bagian Utama Terminal Giwangan

No

Bagian

Keterangan

1

Pemberangkatan

Bus perkotaan, AKDP, dan AKAP

2

Ruang Tunggu

Lantai Dua

3

Blok A dan B

Pusat Perbelanjaan

4

Blok C

Warung Makan

5

Blok D, E dan M

Agen Bus

6

Blok F

Pusat Oleh-oleh

7

Kantor Pengelola

Pemerintah Kota

8

UPTD Terminal

Dinas Perhubungan

Adapun lingkungan yang membatasi lokasi terminal Giwangan ini adalah sebagai berikut:

Tabel 2

Batas Wilayah Terminal Giwangan

Arah Mata Angin

Batas

Utara

Pemukiman penduduk, kelurahan Umbulharjo

Timur

SPBU Pertamina

Selatan

Ringroad Selatan, Imogiri

Barat

Pasar Induk Giwangan, Pondok Pesantren Mahasiswa Stikes Surya Global

Di terminal Giwangan juga terdapat fasilitas layanan umum, seperti layanan pengobatan, informasi dan pengaduan, kantor Organisasi Angkutan Darat (ORGANDA) dan bagian keamanan. Fasilitas layanan umum tersebut dapat digunakan oleh setiap penumpang yang membutuhkannya.

Terminal Giwangan disebut juga sebagai terminal BERTAMAN (Bersih, Tertib, Aman, Nyaman, dan Berwawasan Lingkungan). Untuk menciptakan kelancaran aktivitas transportasi dan kenyamanan pengguna jasa transportasi, disediakan berbagai macam fasilitas, seperti: jalur pemberangkatan, jalur kedatangan, tempat parkir kendaraan selama menunggu keberangkatan, termasuk tempat tunggu dan istirahat kendaraan umum, bangunan kantor terminal, ruang tunggu penumpang atau pengantar, menara pengawas, loket penjualan karcis, rambu-rambu dan papan informasi (petunjuk jurusan, tarif, dan jadwal perjalanan). Selain itu, tersedia pula beberapa fasilitas pendukung seperti: kamar kecil, musholla, masjid, kantin,  telepon umum, tempat penitipan barang, dan taman.

C. 2. Kuli Angkut Barang di Terminal Giwangan

Kuli angkut barang di terminal Giwangan merupakan salah satu dari penyedia jasa kepada para penumpang di terminal tersebut. Di samping kuli angkut barang, terdapat pula penyedia jasa lainnya, seperti: sopir taksi, tukang ojek, dan tukang becak.

Dari penelitian yang dilakukan, ditemukan bahwa seluruh kuli angkut barang yang bekerja di terminal Giwangan adalah berjenis kelamin laki-laki. Mayoritas para kuli angkut barang berasal dari daerah sekitar terminal dan telah bekerja sebagai kuli semenjak terminal penumpang masih berlokasi di Umbulharjo.

Di antara para kuli angkut barang, terdapat seorang kuli yang sudah bekerja selama empat tahun. Sebelum menjadi kuli, dia pernah menjadi tukang becak di sekitar terminal lama (Umbulharjo). Melihat peluang kuli angkut barang cukup menjanjikan penghasilan yang lebih baik, dia mencoba mencari rezeki sebagai kuli angkut barang di terminal Giwangan ini.

“Sebelum jadi kuli, saya dulu pernah narik becak waktu di Umbulharjo”

Berdasarkan umur, para kuli dapat digolongkan menjadi tiga golongan umur. Dari lima kuli yang diamati, dapat dilihat bahwa sebagian besar kuli angkut barang telah berumur di atas 45 tahun. Kuli yang berumur di bawah 25 tahun hampir tidak ditemukan di antara para kuli angkut barang. Table 3 menunjukkan golongan umur para kuli angkut barang.

Tabel 3

Golongan Kuli Angkut Barang Berdasarkan Umur

Golongan

Umur

Jumlah

I

25 – 35 tahun

1

II

35 – 45 tahun

1

II

> 45 tahun

3

Total

5

Para kuli angkut barang di terminal Giwangan berada di bawah naungan sebuah perkumpulan atau perserikatan atau yang lebih familiar disebut sebagai paguyuban. Paguyuban tersebut bernama Paguyuban Jasa Angkut Terminal. Setiap kuli angkut barang yang berkerja di terminal Giwangan adalah anggota paguyuban tersebut. Anggota paguyuban berjumlah 30 orang.

Dalam bekerja, kuli angkut barang yang berjumlah 30 orang dibagi menjadi dua bagian, shift pertama dan kedua.  Mereka bekerja berdasarkan shift tersebut secara bergantian. Table 4 menunjukkan pembagian waktu kerja (shifting) bagi para kuli angkut barang yang ditentukan oleh paguyuban.

Tabel 4

Waktu Kerja (Shifting) Kuli Angkat Barang

Shift

Waktu

I

24.00 – 12.00

II

12.00 – 24.00

Shift pertama bekerja mulai pukul 24.00 dini hari hingga pukul 12.00 siang. Kemudian dilanjutkan oleh shift kedua mulai pukul 12.00 hingga pukul 24.00.

Wilayah kerja para kuli dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama adalah bagian depan atau tempat kedatangan, dan bagian kedua adalah bagian dalam atau tempat pemberangkatan. Pada bagian pertama diberlakukan pembagian waktu kerja secara shifting, sedangkan pada bagian kedua, tidak diberlakukan pembagian waktu secara shifting atau dengan kata lain tidak ada pengaturan waktu kerja para kuli.. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh salah seorang kuli angkut barang.

“Kalau di sini mas (dalam), pake sistem sifting, karena ramai. Tapi kalau di dalam dalam bebas kapan aja”.

Setiap anggota paguyuban kuli angkut barang dikenakan iuran wajib setiap bulan. Iuran bulanan yang dikenakan adalah sejumlah Rp. 7.500,- yang dibayarkan kepada paguyuban. Untuk menjadi anggota paguyuban tersebut tidak dikenakan biaya, namun pengurus paguyuban sangat ketat dalam hal penerimaan anggota baru. Hal ini dilakukan untuk menjaga pangsa pasar masing-masing anggota paguyuban.

C. 3. Analisa Perilaku Kuli Angkut Barang

Ketika penumpang dari luar daerah Yogyakarta turun dari bus yang ditumpangi, penumpang akan langsung dapat menemui penyedia jasa angkut barang atau kuli angkut barang. Kuli yang dijumpai umumnya menawarkan jasa angkut barang dengan sapaan dan senyuman yang ramah. Senyuman dan keramahan yang dilakukan oleh para kuli angkut barang merupakan salah satu strategi penting dalam mencari penumpang agar tertarik menggunakan jasa mereka.

Meskipun tidak semua kuli angkut barang mempraktekkan strategi senyuman dan keramahan. Namun, hampir setiap kuli memulai transaksinya dengan sebuah sapaan berbahasa Jawa halus dan sopan. Hal ini dapat dilihat dari kasus di bawah ini.

Kasus kuli A:

Seorang penumpang yang berasal dari luar kota Yogyakarta tiba dengan bus ekonomi di terminal Giwangan. Penumpang tersebut adalah seorang wanita berumur sekitar 30an tahun. Walaupun barang bawaan wanita tersebut dapat dibawa sendiri, kelelahan akibat perjalanan jauh mendorongnya untuk menggunakan jasa angkut barang. Setelah kuli A menghampiri penumpang tersebut dengan ramah dan pertanyaan tentang tujuan perjalanan selanjutnnya, wanita itu sepakat untuk menggunakan jasa kuli A. Kemudian, kuli A mengantarkan wanita tersebut ke tempat pemberangkatan bus selanjutnya.

Perlilaku para kuli angkut yang menawarkan jasanya dengan senyum dan sopan merupakan perilaku yang mencerminkan ajaran agama Islam. Artinya, perilaku tersebut sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam kitab Sunan At-Tirmidzi no hadits 1879.

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ.

“Senyummu di depan wajah saudaramu adalah sedekah (kebaikan) bagi mu”

Setiap transaksi jasa, idealnya kesepakatan tentang harga dan jasa yang akan diberikan dilakukan sebelum jasa atau layanan tersebut telah diterima. Namun, terdapat kuli angkut barang yang langsung melayani penumpang tanpa kesepakatan tentang harga dan jasa yang ditawarkan terlebih dahulu. Hal ini akan merugikan kedua belah pihak, terutama pihak penumpang yang merasa “dipaksa” untuk menggunakan jasa kuli angkut barang. Kasus kuli B di bawah ini menceritakan seorang penumpang yang barangnya diangkut oleh kuli angkut barang terminal tanpa permintaan dan persetujuan penumpang tersebut.

Kasus kuli B:

Kuli B menemui seorang penumpang bapak-bapak. Setelah menanyakan tujuan penumpang tersebut, kuli B langsung meraih tas milik penumpang lalu membawanya ke tempat pemberangkatan bus. Setiba di dalam bus, penumpang kemudian langsung duduk di kursi bus tanpa memberi upah kepada kuli angkut barang tersebut. Kuli B pun meminta upah dari jasa yang telah diberikan, namun penumpang tidak bersedia memberikan upah kepada kuli B. Terjadilah perdebatan antara penumpang dan kuli B. Penumpang merasa tidak meminta kui B untuk mengangkat barang bawaannya sehingga tidak ada kesepakatan perihal pembayaran upah, selanjutnya penumpang malah menyalahkan kuli B yang terus “memaksa” untuk membawakan barangnya. Kuli B tetap bersikeras meminta upah atas jasa yang telah ia berikan. Setelah perdebatan cukup panjang, akhirnya penumpang tadi memberikan upah “seadanya” kepada kuli B agar segera meninggalkan bus tersebut. Tampak dari wajah penumpang tersebut ekspresi yang tidak rela untuk membayar kuli B tersebut.

Dari kasus di atas, terdapat sedikit unsur “pemaksaan” dalam hal menawarkan dan melakukan pelayanan jasa angkut barang yang dilakukan oleh kuli angkut barang. Hal ini sangat merugikan pihak penumpang yang tidak merasa memberikan kesepakatan perihal jasa yang diterima. Perilaku ini tidak sesuai dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW mengajarkan setiap muslim dalam berinteraksi setiap muslim hendaknya mengedepankan akhlaq yang mulia. Hal tersebut terdapat dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam bukunya Sunan At-Tirmidzi No. 1910:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. رواه الترميذي.

Artinya:

Bertakwalah kepada Allah SWT, di mana pun kamu berada dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus kejelekan tersebut dan bergaulah (berinteraksi) kepada manusia dengan akhlak yang mulia.

Keberadaan paguyuban jasa angkut barang di terminal Giwangan di samping sebagai wadah perkumpulan, paguyuban juga memiliki peran strategis dalam mengatur kegiatan ekonomi para kuli angkut barang. Peran paguyuban dalam mengatur para kuli dilakukan dengan membuat peraturan dalam rangka menjaga dan melindungi hak dan kewajiban setiap kuli angkut barang di terminal Giwangan.

Meskipun terdapat peraturan yang mengatur tata cara dan etika kerja oleh paguyuban, namun pada praktekknya banyak terjadi pelanggaran. Salah satu pelanggaran yang dilakukan oleh kuli adalah persaingan dalam mendapatkan penumpang yang akan menggunakan jasa angkut barang. Hal ini menimbulkan persaingan tidak baik di antara sesama kuli angkut barang. Salah seorang kuli mengungkapkan kekecewaannya terhadap salah satu rekannya yang cenderung mengambil terlalu banyak jatah.

“Di sini sistemnya bebas mas, artinya setiap kuli bebas mencari penumpang. Nah itu mas teman saya (sambil menunjuk kepada salah seorang kuli), dia itu gak ada perasaan sama yang lainnya”.

Dari ungkapan salah seorang kuli di atas, dapat dilihat bahwa perilaku ekonomi antara sesama kuli angkut telah mendatangkan persaingan yang tidak baik. Perilaku tersebut tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Idealnya, kuli yang selalu mendapatkan kerjaan memberikan kesempatan kepada rekannya yang belum mendapatkan kerjaan untuk mencari penghasilan. Namun hal ini tidak terlihat pada kegiatan para kuli selama pengamatan dilakukan. Sikap memberikan kesempatan dan tolong-menolong dalam hal pekerjaan merupakan salah satu perintah agama. Berkenaan dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ.

Artinya:

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

Dari pengamatan yang dilakukan terhadap beberapa kuli yang jasanya tidak digunakan oleh penumpang, menunjukkan bahwa kuli angkut barang tersebut tetap memberikan informasi dan menunjukkan arah keberangkatan bus yang akan dituju oleh penumpang. Hal ini dapat dilihat dari kasus kuli C ketika menawarkan jasa angkut barang.

Kasus kuli C:

Seorang penumpang baru saja turun dari bus di tempat kedatangan, kemudian datanglah kuli C menawarkan jasa angkut. Namun penumpang tersebut menolaknya. Walaupun demikian, setelah kuli C bertanya tujuan penumpang tersebut, kuli C menunjukkan arah dan tempat keberangkatan bus yang dituju.

Dari kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa tindakan kuli tersebut mencerminkan sebuah perilaku yang mulia. Dalam bahasa keagamaan, perilaku tersebut merupakan sebuah cermin dari tingkat keberagamaan seseorang. Seorang muslim yang memiliki pemahaman keagamaan yang baik tentunya akan sangat yakin bahwasanya dengan memberikan bantuk kepada orang lain, maka ia akan mendapatkan kelipatan kebaikan di dunia dan di akhirat. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam bukunya Sunan At-Tirmidzi hadits nomor 2869, yaitu:

…. وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ.

Artinya:

…dan Allah akan selalu membantu seorang hamba, selama seorang hamba tersebut selalu menolong saudaranya.

Kebersamaan di antara kuli tampak cukup akrab dalam kegiatan ekonomi mereka di terminal Giwangan. Dalam pengamatan ditemukan interaksi sosial yang baik antara sesama kuli angkut, meskipun demikian masih ada juga kuli yang tidak terlalu bersosialisasi dengan kuli yang lainnya. Hubungan yang baik dapat dilihat dari obrolan dan senda gurau para kuli angkut barang di sela-sela waktu menunggu penumpang di tempat kedatangan bus.

Kebersamaan yang dimaksud di atas, tercermin dari obrolan di antara kuli D dan kuli E. Kedua kuli ini dari segi umur, memang tidak berbeda jauh, tampaknya faktor umur juga mempengaruhi kedekatan dan keakraban di antara para kuli angkut barang di terminal Giwangan. Hal tersebut dapat telihat dari kasus kuli D dan E.

Kasus kuli D dan E:

Di saat menunggu kedatangan bus yang membawa penumpang, terjadi percakapan di antara dua kuli (kuli D dan E) yang bernuasa humor dan bersahabat. Tak jarang obrolan keduanya diselingi dengan tawa.

Perlilaku pedagang di atas dapat dinilai sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Perilaku keharmonisan (ukhuwah) merupakan salah satu dari sekian banyak ajaran Islam kepada setiap pemeluknya. Diharapkan dari pemahaman agama yang baik, akan tercermin pada perilaku dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kehidupan ekonomi. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.

Artinya:

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.


D. Kesimpulan

Dari penelitian yang dilakukan terhadap para kuli angkut barang di terminal Giwangan, ditemukan beragram perilaku di antara para kuli angkut tersebut. Mulai dari perilaku yang sesuai dengan ajaran agama Islam, hingga perilaku yang tidak sesuai. Abdullah (1989) menyebutkan bahwa keberagamaan (religiousity) adalah perilaku yang bersumber langsung atau tidak langsung kepada ajaran agama.

Beberapa perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran keagamaan (Islam) yang terdapat pada perilaku para kuli adalah ketidakjelasan masalah tarif jasa angkut, penawaran jasa yang agak “memaksa” para penumpang dan persaingan di antara para kuli yang kurang sehat.

Sedangkan perilaku yang sesuai dengan ajaran kegamaan (Islam) adalah penawaran yang dilakukan dengan ramah dan senyuman, tetap membantu memberikan informasi bus dan letak pemberangkatannya kepada para penumpang, dan suasana kebersamaan di antara para kuli angkut barang.

Tingkat kesesuaian antara agama dengan kehidupan sosial dan ekonomi dapat dinilai dengan melihat bagaimana pandangan keagamaan mendukung atau menghambat realisasi nilai-nilai yang diperlukan seperti: tekanan pada nilai-nilai kebendaan dan kekayaan, etos kerja, kerja keras, sikap hemat dan kejujuran (Raharjo, 2001).

Agar dapat lebih lebih jelas melihat tingkat keberagamaan para kuli angkut barang di terminal Giwangan dapat dilakukan akumulasi perilaku para kuli angkut barang tersebut. Tabel 5 menunjukkan akumulasi perilaku para kuli yang diteliti.

Tabel 5

Perilaku Kuli Angkut Barang di Terminal Giwangan

No

Perilaku

Ajaran Agama (Islam)

Sesuai

Tidak Sesuai

1

Menyapa penumpang dengan ramah

2

Penawaran jasa angkut dirasa sedikit “memaksa”

3

Persaingan yang kurang sehat di antara para kuli angkut

4

Memberikan informasi kepada penumpang yang membutuhkan

5

Kebersamaan di antara para kuli angkut barang

Jumlah

3

2

Prosentase

60%

40%

Dari akumulasi perilaku pada tabel 5 di atas, dapat disimpulkan bahwa tingkat prosentase perilaku yang sesuai dengan ajara agama dan perilaku yang tidak sesuai menunjukkan selisih yang tidak signifikan. Artinya, tingkat keberagamaan di kalangan para kuli masih kurang tercermin dalam perilaku ekonomi mereka sehari-hari.

Perilaku para kuli yang mengedepankan nilai-nilai keagamaan lebih dominan didorong oleh strategi untuk mendapatkan penumpang yang tertarik menggunakan jasa mereka. Selain itu, hal tersebut juga dapat membentuk pelanggan dari penumpang yang sering singgah di terminal.

Perilaku ekonomi yang tidak sesuai dengan ajaran agama, dilakukan oleh para kuli atas desakan kebutuhan ekonomi. Ketika para kuli terdesak dan membutuhkan uang, maka sebagian kuli cenderung melakukan hal yang tidak sesuai di atas. Selain itu, persaingan bebas di antara para kuli juga memaksa mereka untuk saling berlomba-lomba dalam mencari penumpang.

Berdasarkan pemaparan di atas, diperlukannya peran pihak yang terkait, terutama pihak pemerintah untuk turut serta memperhatikan permasalahan para kuli angkut barang tersebut. Pembinaan keagamaan tetap menjadi prioritas disamping pembinaan yang bersifat jangka panjang dan ekonomis. Pemerintah juga diharapkan agar memberikan peluang usaha yang sesuai bagi ruang gerak para kuli angkut barang agar mereka dapat bekerja dengan layak dan baik, dan yang lebih penting lagi adalah tetap menjaga keamanan dan kenyamanan para penumpang bus di terminal Giwangan.

E. Daftar Pustaka

Abdullah, M. Amin. 2006. Metodologi Penelitian Agama.Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Abdullah, Taufik dan M. Rusli Karim (ed).1989. Metodologi Penelitian Agama, Suatu Pengantar Yogyakarta: Tiara Wacana

Bellah, Robert N.2000. Beyond Belief: Esesi-Esei Tentang Agama Di Dunia Modern. Jakarta. Paramadina

Bendix, Reinhard. 1962. Max Weber: An Intellectual Portait. New York: Anchor Books

Geertz, Clifford .1992. Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa. Jakarta Pustaka Jaya

Hidayat, Komarudin. 2001. Agama Di Tengah Kemelut. Jakarta: Mediacita.

O’dea, Thomas F.1996. Sosiologi Agama: Suatu Pengenalan Awal. Jakarta Rajawali Press

Poloma, Margaret. 1984. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT.Rajawali.

Raharjo, Dawam.1990. Etika Ekonomi dan Manajemen.Yogyakarta: Tiara Wacana.

Ritzer, George. 1985. Sosiologi Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT.Rajawali Press.

Robertson, Roland.1993.  Agama : Dalam Analisa dan Interpretasi Sosioligis. Edisi Terjemahan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Scott, James.C. 1989. Moral Ekonomi Petani. Pergolakan dan Subsistensi di Asia Tenggara. Jakarta: LP3ES.

Steward, Julian H. 1976. Theory of Culture Change. The Methodology of Multilinier Evolusion .Urban Chicago London: University of Illionis Press

Syirkatu-al-Barnamaj-Al-Islamiyah-Ad-Dauliyyah. 2000. Mausu’atu-l-Hadits-As-Syarif Al-Kutubu-t-Tis’ah. Edisi kedua. Mesir: Syirkatu-al-Barnamaj-Al-Islamiyah-Ad-Dauliyyah.

Weber, Max.2002. Sosiologi Agama, terj. Muhammad Yamin, Yogyakarta: IRCiSoD, Smith, Donald Eugene.1985. Agama dan Modernisasi Politik, terj. Machsun Husein, Jakarta: CV. Rajawali

Leave a comment

Filed under Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s