Hakikat Ilmu Ekonomi Islam (Resume)

Dr. M. Umer Chapra

Resumed by Royyan Ramdhani Djayusman

Abstrak

Hakikat ilmu ekonomi Islam yang dirumuskan oleh Chapra merupakan kesimpulan yang didasarkan pada pembahasan-pembahasan sebelumnya. Setelah menelaah perbedaan antara paradigma ilmu ekonomi Islam dan konvesional, kemudian sebab-sebab kemunduran umat Islam berikut ulasan mengenai paradigma Islam sepanjang sejarah. Maka, Chapra pada bagian ini akan memaparkan bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut (dengan ilmu ekonomi konvesional) dapat direfleksikan secara ideal dalam tujuan, cara, lingkup dan metodelogi dalam ilmu ekonomi Islam.

Tujuan dari ilmu ekonomi Islam adalah merealisasikan kesejahteraan manusia yang mana ini merupakan realisasi dari maqasid syari’ah. Sedangkan cara untuk mencapainya ialah dengan menjadikan manusia sebagai tujuan (target) sekaligus alat, ditambah dengan unsur moral dan pasar (harga) sebagai penyaring (filter) setiap usaha untuk mencapai tujuan tersebut. Definisi dan lingkup yang dibahas sangat luas dan komprehensif meliputi moral, sosial, budaya, politik, sejarah dan ekonomi itu sendiri. Terakhir adalah metodelogi, Chapra menggunakan metode yang bersifat plural (empiris, positif, dan normatif) yang dikombinasikan dalam merumuskan Ilmu Ekonomi Islam yang sangat kompleks.

Ilmu ekonomi Islam merupakan cabang ilmu pengetahuan yang unik dikarenakan menghubungkan antara nilai-nilai ketuhanan (ilahiyah) yang seharusnya terjadi dengan realitas apa adanya. Hal tersebut menjadikan ilmu ini sulit diterima dalam pandangan ilmiah Barat yang menganggap bahwa suatu ilmu harus dapat menjelaskan realitas yang ada, bukan apa yang seharusnya.

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan argumentasi tentang eksistensi ilmu ekonomi Islam dan menjelaskan ilmu tersebut secara ilmiah dengan menguraikan definisi, tujuan, metode dan mekanisme. Eksistensi dari ilmu ekonomi Islam dijelaskan dengan cara memaparkan dan menganalisa pendapat para sarjana ekonomi modern dan muslim secara komparatif dengan merujuk kepada sumber-sumber ilmu ekonomi Islam melalui pendekatan normatif.

Kata kunci: nilai-nilai ketuhanan (ilahiyah), realitas, eksistensi, definisi, tujuan, metode, mekanisme, komparatif dan normatif.

A. Tujuan

Dalam salah satu doanya, Rasulullah saw. memohon perlindungan kepad aAllah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Berdasarkan doa ini, keberhasilan dan kegagalan suatu ilmu pengetahuan dapat dibuktikan sejauhmana kontribusi ilmu pengetahuan tersebut terhadap realisasi kesejahteraan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Kesejahteraan manusia jelas merupakan target utama dari maqashidusy-syari’ah (tujuan hukum Islam/syari’ah).

Menurut Chapra, sekalipun ilmu ekonomi Islam akan tetap berkonsentrasi pada aspek alokasi dan distribusi sumber-sumber daya, seperti halnya pada ilmu ekonomi konvensional, namun tujuan utama ekonomi Islam adalah harus merealisasikan maqashid. Contoh dari penerapan maqashid yaitu, kalau dalam ilmu ekonomi konvensional terdapat konsep optimum Pareto yang selalu dikaitkan dengan tiap-tiap ekuilibrium pasar, maka perlu adanya konsep optimum Islam, yang berarti bahwa ekuilibrium pasar yang merefleksikan realisasi serentak tingkat optimalitas aspek efisiensi dan pemerataan (keadilan) yang selaras dengan maqashid.

B. Cara (mekanisme)

Chapra mengutip pendapat Al-Ghazali (w. 505/1111) bahwa tujuan utama syari’ah adalah mendorong kesejahteraan manusia, yang terletak dalam perlindungan terhadap agama mereka (diin), diri (nafs), akal (‘aql), keturunan (nasl), harta benda (maal). Apa saja yang menjamin terlindungnya lima perkara tersebut berarti melindungi kepentingan umum dan dikehendaki (kesejahteraan).

Dalam membahas masalah maqashid, pengayaan agama, diri, akal, keturunan, dan harta benda sebenarnya telah menjadi fokus utama usaha semua manusia. Manusia itu sendiri menjadi tujuan sekaligus alat. Tujuan dan alat dapam pandangan Al-Ghazali dan juga para fuqaha lainnya, saling berhubungan satu sama lain dan berada dalam satu proses perputaran sebab-akibat. Realisasi tujuan akan memperkuat alat dan lebih jauh akan mengintensifkan realisasi tujuan.

B. 1. Filter Moral (Keimanan)

Keimanan ditempatkan pada urutan pertama, bahkan kepentingan agama harus didahulukan daripada kepentingan dunia (as-Syatibi), karena keimanan menyediakan pandangan dunia yang cenderung berpengaruh pada kepribadian manusia, perilakunya, gaya hidupnya, cita rasa dan preferensinya, dan sikapnya terhadap orang lain, sumber-sumber daya dan lingkungan. Iman juga menyediakan filter moral yang menyuntikkan makna hidup dan tujuan dalam diri manusia ketika menggunakan sumber-sumber daya, dan memberikan mekanisme motivasi yang diperlukan bagi beroperasinya secara efektif. Filter moral bertujuan menjaga kepentingan individu (self interest) dalam batas-batas kemaslahatan sosial (social interest).

B. 2. Filter Harga (Pasar)

Jika klaim-klaim terhapd sumber-sumber daya ini lolos pada filter lapis pertama (moral), filter kedua (harga) akan lebih efektif dalam menciptakan suatu keseimbangan di pasar yang konsisten dengan tujuan-tujuan normatif. Keadaan ini kian diperkuat jika lembaga-lembaga finansial juga direstrukturisasi sehingga seirama dengna sistem nilai Islam dan berperan melengkapinya.

Harta benda ditempatkan pada urutan terakhir. Hal ini bukan berarti harta bukan hal yang penting, namun karena harta tidak dengan sendirinya membantu mewujudkan kesejahteraan bagi semua orang dalam suatu pola yang adil kecuali jika faktor manusia itu sendiri telah direformasi untuk menjamin beroperasinya pasar secara fair. Jika harta benda ditempatkan pada urutan pertama dan menjadi tujuan itu sendiri, akan menimbulkan ketidakadilan yang kian buruk, ketidak seimbangan, dan ekses-ekses lain yang pada gilirannya akan mengurangi kesejahteraan mayoritas generasi sekarang maupun yang akan datang.

Arah tegas yang diberikan oleh keimanan dan komitmen moral kepada pemenuhan semua kebutuhan ini dapat menyediakan alokasi dan distribusi sumber-sumber daya, tidak datang dari sistem harga dan pasar sendiri, seperti dalam sebuah lingkungan sekularis yang menjadikan pemenuhan kepentingan diri sendiri dan maksimalisasi keinginan dan kepemilikan barang-barang materiil sebagai tujuan utama aktivitas kemanusiaan.

C. Definisi dan Lingkup

Chapra mengunggkapkan bahwa ilmu ekonomi Islam dapat didefinisikan sebagai suatu cabang pengetahuan yang membantu merealisasikan kesejahteraan manusia melalui suatu alokasi dan distribusi sumber-sumber daya langka yang seirama dengan maqashid, tanpa mengekang kebebasan individu, menciptakan ketidakseimbangan makroekonomi dan ekologi yang berkepanjangan, atau melemahkan solidaritas keluarga dan sosial serta jaringan moral masyarakat. Tujuan mendorong kesejahteraaan manusia akan membantu menyediakan suatu arah yang tegas baik bagi pembahasan teoretis maupun resep kebijakan.

Tugas Ilmu Ekonomi Islam

  1. Mempelajari perilaku actual individu dan kelompok.
  2. Menunjukkan jenis perilaku yang diperlukan untuk mewujudkan sasaran yang dikehendaki.
  3. Menjelaskan mengapa para agen ekonomi (manusia) tidak melakukan perilaku-perilaku tersebut.
  4. Mengajukan strategi bagi perubahan sosioekonomi dan politik, suatu strategi yang dapat membantu membawa perilaku semua pemain/agen ekonomi di semua bidang.

Misi utama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, adalah menciptakan suatu perubahan individu dan sosial di mana tanpa perubahan semacam ini sulit memperbaiki kondisi umat manusia. Mereka (Muslim pada masa Nabi Muhammad saw) mencoba mewujudkannya lewat pendidikan, motivasi yang benar, reformasi lembaga-lembaga sosioekonomi dan politik yang mempengaruhi perlikau manusia.

Ilmu ekonomi Islam tidak mungkin berhasil melaksanakan tugasnya jika membatasi wilayahnya pada variabel-variabel ekonomi, melainkan semua faktor moral, sosial, ekonomi, politik dan sejarah karena ini sangat berpengaruh pada perilaku agen ekonomi. Oleh karena itu, ilmu ekonomi akan menajdi sebuah sains leintas disiplin (a multidisciplinary science) dengan suatu pendekatan sosioekonomi dan dinamika politik tanpa mengesampingkan teori dari disiplin ilmu ekonomi konvensional.

D. Metodologi

Metode yang digunakan dalam ilmu ekonomi konvensional lebih bersifat empiris dan rasional, meskipun ada juga yang berpendapat bahwa dunia sosial adalah suatu kenyataan yang teratur persis seperti dunia alam. Akan tetapi adalah sebuah usaha yang sia-sia untuk mencari suatu metode tunggal bagi penerimaan dan penolakan proposisi dalam ilmu ekonomi Islam, di mana lingkupnya jauh lebih luas dan tujuannya lebih berat. Karena itu, pluralisme metodologi merupakan hal yang paling cocok dan ini tampak dipilih dan diadopsi oleh para sarjana muslim masa lalu. Maka tepat sekali Siddiqi mengindikasikan:

Tradisi Islam dalam ilmu ekonomi adalah kebebasan formalisme, yang menfokuskan pada makna dan tujuan dengan suatu ¬†metodologi yang fleksibel“.

D. 1. Beberapa Langkah Logis

Meskipun demikian, sejumlah langkah perlu diambil untuk menerima atau menolak suatu proposisi atau hipotesis tertentu. Langkah-langkah tersebut adalah:

  1. Melihat apakah proposisi yang dipertimbangkan itu sejalan atau tidak dengan struktur logika paradigma Islam.
  2. Mengevaluasi validitas proposisi logis lewat analisis rasional.
  3. Menguji berbagai proposisi yang diturunkan. (sejarah, data statistik masyarakat muslim dan non-muslim, masa kini dan masa lalu).

D. 2. Batasan metodelogi

Sekalipun memahami inti logika antara sebab dan akibat itu penting agar memungkinkan kita untuk menjelaskan dan memprediksi, namun ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Manusia memiliki keerbatasan dan tidak mampu untuk menjelaskan atau memprediksi segala sesuatu. Semua yang dapat dilakukan oleh ilmu ekonomi Islam adalah melakukan pengujian kebenaran normatifnya dan teori positifnya sebanyak mungkin dengan mengumpulkan data statistik dan historis yang tetap terikat dengan realitas yang ada.
  2. Kaum muslimin percaya ada kemungkinan kecil pertentangan antara observasi empiris dan proposisi yang dinyatakan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah. Namun, sangat sedikit proposisi ilmu ekonomi Islam yang diambil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, sebagian besar berasal dari fiqh dan literature Islam lainnya atau ilmu ekonomi konvensional atau ilmu-ilmu sosial lainnya.

Dalam penjabaran ilmu ekonomi Islam yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah baik secara normatif ataupun empiris, setidaknya ada tiga keberatan yang ditemukan:

  1. Sebagian isi Al-Qur`an dan As-Sunnah berbicara tentang alam gaib, seperti Allah, akhirat dan kedamaian pikiran. Hal ini tidak dapat diobservasi dan tidak dapat dijadikan basis ilmu pengetahuan.
  2. Al-Qur`an dan As-Sunnah memberikan norma-norma tentang bagaimana para agen ekonomi harus berperilaku dan kebijakan apa harus diadopsi untuk merealisasikan kesejahteraan yang dikehendaki Islam.
  3. Teori-teori yang diambil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah serta literatur Islam lainnya tidak selalu dapat diuji karena adanya jurang yang lebar antara perilaku kaum muslimin dan apa yang seharusnya mereka lakukan.

E. Penutup

Ilmu ekonomi Islam dengan tegas bertujuan untuk membantu manusia untuk mencapai kesejahteraan yang ideal dan berkeadilan dengan berlandaskan kepada maqashid syari’ah. Dimana tujuan dari maqashid syari’ah adalah tercapainya kemaslahatan atau kesejahteraan manusia.

Dalam mencapai kesejahteraan ilmu ekonomi Islam meletakkan keimanan (keyakinan) dalam skala prioritas yang berfungsi sebagai filter moral. Filter moral berperan juga sebagai komplemen dari filter sesudahnya yaitu filter harga dan pasar, apabila sumber daya telah terseleksi oleh filter moral, maka distribusi dan alokasi sumber daya dapat berjalan dengan baik dan merata (adil).

Dengan tujuannya untuk mencapai kesejahteraan manusia, ilmu ekonomi Islam tidak dapat meninggalkan aspek-aspek yang mempengaruhi kesejahteranan tersebut, seperti keadaan sosial, budaya, polilik, dan ekonomi. Hal ini berarti bahwa ruang lingkup ilmu ekonomi Islam sangat kompleks dan multi disiplin.

Berdasarkan lingkup ekonomi Islam yang sangat kompleks dan multi disiplin, maka metode yang digunakan adalah metode yang pluralis, baik metode yang bersifat empiris, positif maupun normatif, dan lainya.

Wallahu’alam bishawab.

Referensi:

Chapra, M. Umer, 2001, “Masa Depan Ilmu Ekonomi Sebuah Tinjauan Islam” (terjemahan dari: The Future of Economics: An Islamic Perspective), Gema Insani Press, Jakarta.

Leave a comment

Filed under Artikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s